22 Agustus 2017

Motor, Solusi Kemacetan yang Dituduh Jadi Biang Kemacetan

BY ekp No comments

Sudah bukan berita populer lagi jika kita membicarakan kemacetan di Jakarta. Macet seperti keberadaan kucing di pemukiman, sudah biasa dan pasti ada. Konon dulu hari libur dikecualikan dalam kategori hari macet di Jakarta. Tapi faktanya, kini hari libur juga tak mau kalah, macet di mana-mana.

Kalau bicara penyebabnya, tentu kompleks dan rumit, bukan keahlian saya. Kalau bicara kebijakan mengatasinya, sudah banyak gubernur mengambil peran, semuanya orang hebat. Tapi bagi saya, secara kasat mata belum ada perubahan. Tiap pagi sore (maaf bukan rumah makan padang) selalu mampet di jalanan.

Di tengah kondisi lalu lintas Jakarta yang ruwet itu, masyarakat dipaksa memikirkan solusi secara mandiri. Sepeda motor yang langsing dan lincah menjadi pilihan paling realistis memecah kebuntuan di jalan. Itu pula yang membuat ojek online kini laris manis diburu. Tak lain dan tak bukan karena sepeda motor dipandang lebih efektif untuk menempuh perjalanan di tengah jam-jam macet ibu kota. Moda transportasi roda dua ini seakan jadi solusi instan agar tak terdampar dalam kemacetan.

Betapa terkejutnya saya ketika sekitar dua hari yang lalu membaca tautan berita yang mengabarkan bahwa di bulan September akan diberlakukan pelarangan sepeda motor di sepanjang jalan sudirman dan rasuna said. Eh, maaf bukan pelarangan tapi pembatasan, karena sepeda motor dibatasi untuk tidak melintasi kedua jalan tersebut dari jam 6.00-23.00 di hari senin - jumat. Tapi saya lebih suka menyebutnya pelarangan karena sedikit sekali yang akan bersepeda motor jam 00.00-5.00. Lebih membuat saya geleng-geleng kepala adalah argumen di balik kebijakan itu. Disebutkan bahwa pelarangan motor ini dilatarbelakangi pertumbuhan sepeda motor yang sangat tinggi, mencapai 9,7 % sd 11 %. Sedangkan pertumbuhan mobil "hanya" 7, 9 % sd 8,75 % (sumber: detik.com). Yang makin membuat saya mengelus dada (saya sendiri), ketika terucap bahwasanya kebijakan ini sebagai upaya mengurangi kemacetan. Dengan kata lain, secara tidak langsung sepeda motor dituduh sebagai biang kemacetan sehingga perlu "dimusnahkan". Alamak, sebagai pengguna motor, sedih saya mendengarnya. Fitnah yang sungguh "kejam".

Fitnah? ya fitnah. Coba kita pakai hitungan sederhana saja untuk mengujinya. Saya coba googling dimensi sepeda motor dan mobil untuk dibandingkan. Agar perbandingannya "ekstrim" saya coba membandingkan sepeda motor yang cukup besar dengan mobil yang paling kecil. Baik, saya ambil contoh sepeda motor honda CBR. Lebarnya 0,76 m dan panjangnya 2,04 meter sehingga luas jalan yang dibutuhkan 1,55 meter persegi. Kemudian saya pilih honda brio sebagai perbandingan. Lebarnya 1,68 meter dan panjangnya 3,61 meter sehingga luas jalan yang dibutuhkan 6,06 meter persegi. Buka mata "Anda" lebar-lebar, luas jalan yang dibutuhkan mobil  empat kali dari sepeda motor. Atau gampangnya, di jalan, kebutuhan akan luas jalan satu mobil setara dengan empat sepeda motor. Oke kita hitung lebih jauh lagi. Karena tadi berbicara tentang pertumbuhan, mari kita buktikan. Anggap saja jumlah motor tahun lalu 100 unit sehingga luas jalan yang dibutuhkan adalah  155 meter persegi. Kita ambil perkiraan pertumbuhan yang paling tinggi, 11%, maka jumlah sepeda motor menjadi 111 unit sehingga makan tempat 172,05 meter persegi. Pertambahan luas jalan yang dibutuhkan sebesar 17,05 meter persegi. Sekarang kita hitung pertumbuhan mobil. Asumsikan tahun lalu jumlah mobil juga sama, 100 unit sehingga luas jalan yang dibutuhkan 606 meter persegi. Kita pilih perkiraan pertumbuhan yang paling kecil 7,9%, maka jumlah mobil menjadi107,9 unit. Oke kita bulatkan ke bawah saja jadi 107 unit sehingga makan tempat 648,42 meter persegi. Pertambahan luas jalan yang dibutuhkan sebesar 42,42 meter persegi.  Coba lihat, meskipun secara persentase pertumbuhan motor lebih besar dibanding mobil, pertambahan luas jalan yang dibutuhkan seiring pertumbuhan mobil 2,5 kali lebih tinggi dibanding sepeda motor. Sederhananya, pertumbuhan mobil makan jalan 2,5 kali lebih banyak dibanding sepeda motor. Ini baru kita ambil contoh mobil dengan dimensi kecil, padahal kita tahu di jalanan didominasi jenis MPV yang dimensinya lebih besar.

Tapi kan mobil muatannya lebih banyak? Coba melek lebih lebar lagi, kita kembali ke contoh di atas, satu mobil brio maksimal 5 orang, sedangkan 4 sepeda motor muat 8 orang. Kalau cek fakta di lapangan, jarang kita lihat satu mobil diisi kapasitas penuh. Bahkan tidak sedikit yang hanya berisi 1 orang. Kalaupun penuh, biasanya itu taksi online yang penumpangnya pengen irit ongkos, seperti saya. Lagian, urusan jumlah penumpang ini sebenarnya ga nyambung-nyambung amat, karena yang dibicarakan adalah pertumbuhan jumlah kendaraan bukan penumpangnya.

Bukan, saya bukan ingin menyalahkan mobil. Hanya saja, dari hitung-hitungan sederhana tadi, saya makin yakin kalau ini fitnah yang "kejam". Saya jadi penasaran metode seperti apa yang bisa menghasilkan kesimpulan bahwa untuk mengurangi kemacetan harus dengan "menyingkirkan" sepeda motor. Saya sepakat sekali dengan pembatasan, tapi jika "Anda" bisanya baru pembatasan jumlah kendaraan yang ada di jalan, ya mbok fair dikit. Samakan lah perlakuan dengan mobil, terapkan kebijakan ganjil genap saja untuk pembatasan sepeda motor. Cukup fair bukan? Kecuali jika memang kebijakan "membunuh" sepeda motor ini ditujukan untuk mengakomodir kebutuhan pertambahan luas jalan yang dibutuhkan mobil. Fitnah itu katanya lebih kejam dari membunuh, apalagi ini, sudah fitnah "membunuh" pula.

*Seluruh data di atas hanya didapatkan dari googling semata, kalau ada perbedaan data mohon dapat diluruskan. 

29 Mei 2017

Tentang Anak Pertama : Ramadhan Kami

BY ekp No comments

Bulan Ramadhan tahun ini sungguh sangat spesial buatku. Ini adalah puasa pertama dengan ditemani buah hati setiap harinya. Periode Ramadhan yang lalu sebenarnya anakku sudah lahir ke dunia, namun jarak memisahkan kami waktu itu sehingga tak bisa setiap hari bertemu. 
Anak pertamaku kini masih berusia 1 tahun 5 bulan dan tentu saja belum berpuasa, tetapi setiap saat berbuka dia akan ikut heboh atau lebih tepatnya rusuh mencicipi makanan sesuka hatinya. Meskipun ada sedikit kesal terasa tapi terobati oleh keseruan yang tiada duanya. Dahulu hanya buka bersama di hari sabtu, kini kami bisa sepiring berdua tiap adzan maghrib menggema.

Tak berhenti di situ, anak pertama yang sedang lucu-lucunya dan juga ngeyel-ngeyelnya ini sering menunjukkan tingkah yang membuat saya terkekeh-kekeh. Salah satunya saat puasa memasuki hari kedua. Pagi itu saya mencoba tilawah karena melihat anak sedang bermain di kamar, aman pikirku. Dilema menggunakan Mushaf atau aplikasi Quran di handphone, karena keduanya punya risiko yang sama beratnya. Mushaf bisa dirobek jika ketahuan anakku, handphone juga akan direbut jika dia melihatnya. Karena aku dan istri sudah berkomitmen untuk meminimalisasi kontak anakku dengan handphone, maka pilihan jatuh ke Mushaf tentu dengan risiko dirobek.

Baru membaca setengah halaman, terdengar suara anakku yang sedang bergegas turun dari kasur. Terdengar suara "yayah.. yayah.." keluar dari mulut imutnya, pertanda dia akan menghampiri ayahnya. Aku langsung ambil kuda-kuda dan siaga satu karena aku tahu dia akan penasaran dengan Mushaf kecil yang ada di tanganku. Benar saja, dia berlari ke arahku dan dengan cepat meraih Mushaf hijau yang kupegang. Sempat ingin kularang, tapi akhirnya kubiarkan. Biarlah dia berkenalan dengan Al Quran, meskipun di matanya mungkin itu hanya sekedar buku kecil yang enak dipegang dan dimainkan. Coba kuajarkan dia untuk membuka lembarannya satu per satu. Tapi dasar anak kecil, dengan lagak sok tahunya dia membuka-buka sendiri sesukanya.

Tangannya bergerak membolak-balikkan halaman per halamannya. Raut mukanya tampak serius dan matanya fokus melihat huruf arab yang ada di hadapannya seolah ingin tahu apa yang sedang dipegangnya. Khawatir mulai bosan dan berusaha merobek lembarannya, kutuntun dia untuk meletakkannya di meja dan menyuruh membacanya. Meskipun sempat protes, tapi akhirnya dia nurut juga. Diletakkannya Mushaf yang masih terbuka itu di atas meja dengan raut muka dan pandangan yang masih seserius yang tadi.

Aku biarkan dia, tapi dengan terus mengawasinya dari kemungkinan tindak perobekan atau pelemparan yang seringkali terjadi. Situasi nampak aman, dia masih asyik dengan Mushaf yang terus dibuka-buka dari depan ke belakang dan dari belakang ke depan. Aku hanya bisa senyum-senyum memperhatikannya. Hingga tiba saat yang tak dinyana dan tak diduga, anak pertamaku ini tiba-tiba bersuara lantang. Bunyinya memang hanya "aa... oo... aa... oo.." Tapi yang mengejutkan dia menggunakan langgam mirip orang mengaji dan dilafalkannya terus menerus dalam waktu yang cukup lama. Subhanallah, aku tercekat bangga. Anak kecil yang belum pernah kuajarkan mengaji ini bisa-bisanya berlagak seperti orang yang sedang tilawah. Entah dia meniru siapa, semoga saja dia mendapatkan referensi tindak tanduk orang mengaji itu dari ayahnya.

Aku masih tak berhenti tertawa melihat kelakuannya meskipun di dalam hati juga masih terharu tiada tara. Besar harapanku bisa mengajarkan mengaji sejak dini ke anakku. Melihat dia dengan percaya diri mengaji dengan versinya seperti tadi membuat aku tak sabar menunggunya benar-benar bisa melafalkan huruf hijaiyah sesuai makhraj-nya. Semoga kelak dia menjadi hafidzah dan ahli Quran dalam kehidupan aqil baligh-nya, aamiiin.

09 Mei 2017

Tentang Anak Pertama: Tendangan Pertama

BY ekp No comments

Jam di handphone sudah menunjukkan pukul 12.22 dini hari...mata ini masih terbuka setelah menonton pertandingan bola, meski badan sudah terbaring di atas kasur...sedangkan istri sudah lama terlelap di samping saya..
Karena belum ada tanda tanda akan segera pergi ke dunia mimpi...iseng saya mengelus perut istri yang sudah membumbung tinggi...
ternyata sedikit sentuhan itu malah membangunkan dia...
Sebab tak enak hati sudah mengganggu kenyenyakan istri saya...tanganpun kembali saya tarik untuk menyangga kepala sambil menunggu terlelap...
Namun tak lama, wanita yg dari tadi tidur di samping saya tiba-tiba menarik tangan saya menuju perutnya...
Ketika itu saya ga langsung "ngeh" apa maksudnya.. Tapi saya turutin saja.. Dia pun tak berkata-kata hanya terus memegangi pergelangan tangan saya yang kini menempel di perutnya...
Beberapa waktu berselang..kemudian terasa sedikit kegaduhan di balik perut istri saya...ada makhluk yang sepertinya sedang bergerak atau mungkin hanya sekedar mencari "posisi wuenak" di dalam sana...
Penasaran saya memindahkan tangan ke beberapa titik di perut istri..tapi dia kembali menarik tangan saya ke pusat kegaduhan yang terjadi tadi...
Dan...terdengar suara "dug" (kalau ini hanya saya bikin sedikit dramatis aja :D) akibat benda mungil yang saya rasakan bergerak menonjol di perut istri saya...
Akhirnya...saya merasakan tendangan pertama (semoga saya ga salah..mungkin itu bukan tendangan tapi pukulan) dari buah hati saya di dalam rahim sana...
Ah...luar biasa rasanya...setelah sekian bulan ketika istri saya bilang bahwa sang bayi bergerak dan saya hanya bisa mendengar ceritanya...malam itu akhirnya saya merasakan tendangan anak saya pertama kalinya...
Subhanallah... :)

03 Mei 2017

Benar-Benar Merasakan

BY ekp No comments

Petang itu seperti biasa si vahri sudah siap digeber melintasi rute pulang kantor. Trayeknya Lapangan Banteng - Rawa Belong via Istana Negara - Jatibaru - Slipi. Vahri nampak sedikit lusuh hari ini karena terpaan panas dan hujan saat long weekend. Ya, si Vahri yang nama lengkapnya vahrio ini memang cukup bekerja keras selama libur tiga hari kemarin.
Tapi inti ceritanya bukan disitu, singkatnya, ketika sampai di samping Istana negara alangkah terkejutnya saya ketika melihat jajaran kendaraan bermotor dari berbagai usia dan jenis kelamin bergumul rapat di depan sana. Tak biasanya seperti itu karena sehari-harinya keruwetan baru dimulai di jalan abdul muis. Dengan sedikit meliuk-liuk di antara deretan mobil, kami akhirnya berhasil sampai di depan Istana Negara. Sempat saya standar si Vahri sambil celingukan ke arah depan karena semua kendaraan tak bisa jalan. Alamak, pemandangan yang rumit nampaknya karena barisan kendaraan sudah membentuk simpul mati.
Di tengah suasana jalanan yang amburadul itu tiba-tiba nampak barisan hitam-hitam dengan sirine biru menyala-nyala keluar dari gerbang istana yang sudah terbuka sejak lama. Makin menambah kebuntuan lah ini karena arus kendaraan dihentikan sejenak demi memberi mereka jalan. Entahlah siapa yang ada di dalam mobil mewah yang dikawal itu, yang pasti mereka dengan nyaman melenggang di tengah kemacetan panjang.
Karena itu terjadi di depan kediaman kenegaraan presiden, beberapa detik saya jadi membayangkan seandainya saya adalah Pak Jokowi. Jika seandainya Pak Jokowi yang seorang Presiden Indonesia ada dalam posisi saya saat itu, bagaimana ya reaksinya?
Ya, coba bayangkan Pak Jokowi naik motor sendirian tanpa pengawalan di tengah kemacetan yang tak tahu dari mana asal muasalnya. Pasti ada rasa sebal dan kesal, sama halnya dengan saya karena seluruh penjuru mata angin tak ada ruang untuk sekedar memajukan kendaraan. Bedanya, saya hanya bisa menggerutu dan ngomel-ngomel sendiri, tapi kalau seandainya saya adalah Pak Jokowi, mungkin saya bisa ngomel-ngomelin Gubernur DKI atau Kapolda metrojaya atau siapapun pejabat yang bertanggung jawab atas kemacetan Jakarta yang tak kunjung teratasi. Saya akan bisa segera berpikir dan bertindak nyata karena saya adalah pimpinan tertinggi di Indonesia yang punya kuasa.
Masih ingat dulu Pak Dahlan Iskan yang masih Menteri BUMN sempat ngamuk dan membuang kursi pos jaga tol? Beliau melakukan itu akibat pelayanan gerbang tol yang lama karena jumlah petugas pintu tol tidak seperti yang seharusnya sehingga antrian mobil menjadi panjang. Beliau bisa bertindak seperti itu karena saat itu beliau punya kuasa atas Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol tersebut. Jadi beliau bisa langsung memberikan "teguran" secara nyata dengan caranya.
Itu lah yang selama ini sedikit tidak pas di hati saya. Bagaimana pejabat terkait bisa benar-benar memikirkan solusi konkrit terhadap suatu masalah kalau beliau tidak benar-benar merasakannya? Dalam contoh kasus ini, Bagaimana pejabat terkait bisa benar-benar memikirkan solusi konkrit atas kemacetan yang merajalela jika mereka tidak pernah benar-benar merasakannya karena selalu dikawal kemana-mana. Bahkan untuk beberapa level pejabat, ada yang harus disterilkan jalanannya hanya agar mereka bisa melintas dengan aman dan nyaman.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan betapa muak dan menjengkelkannya tiap hari berangkat dan pulang kerja selalu bermacet-macet ria.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan masuk angin karena kaos dalam basah keringetan akibat panas-panasan macet parah.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan frustasi karena harus menahan emosi menghadapi tensi jalanan yang tinggi.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan semua itu. Makanya langkah mereka hanya berkutat pada wacana, hasil membaca dan teori belaka.
Seingat saya belum pernah dengar berita ada seorang Presiden, atau seorang gubernur atau kapolda metrojaya atau pejabat berwenang lainnya yang sedang mengendarai mobil atau motor sendiri di Jakarta kemudian turun dari kendaraannya dan marah-marah karena kemacetan parah yang sering kali tak tahu apa sebabnya.
Memang pengawalan pejabat itu halal sesuai ketentuannya, tapi buat saya itu malah membuat manja dan pejabat tak bisa benar-benar memikirkan masalah yang dirasakan rakyat jelata. Sekali lagi, karena mereka tidak benar-benar merasakan tidak enaknya.
Semua manusia akan bereaksi atas apa yang dialami dirinya sendiri. Bedanya, rakyat jelata hanya bisa ngomel-ngomel sendiri dan dipendam dalam hati, sedangkan pejabat yang punya kuasa bisa ngomel-ngomelin bawahannya dan mengambil kebijakan nyata.

09 Januari 2017

Liburan Sekolah

BY ekp No comments

Dalam kurun waktu dua minggu yang lalu, anak-anak sekolah menikmati masa liburannya. Dari anak SD sampai SMA bisa rehat sejenak dari buku pelajaran mereka. Layaknya dulu tugas dari guru bahasa indonesia untuk menceritakan pengalaman selama libur, sungguh saya ingin menceritakan kegembiraan saya selama liburan sekolah kemarin meski saya sudah tak sekolah lagi.
Sebagai penghuni DKI Jakarta, sudah tak asing lagi dengan hiruk pikuknya kemacetan jalanan. Terutama ketika hari kerja di pagi dan sore hari. Percaya atau tidak, kemacetan di Jakarta ini punya korelasi dengan liburan sekolah. Tanpa perlu menggunakan SPSS atau sejenisnya, sudah mahfum bahwa tingkat kemacetan jakarta berbanding terbalik dengan liburan sekolah. Saat liburan sekolah telah tiba, maka kemacetan jakarta seketika akan pergi. Begitu pula saat liburan sekolah telah usai, seketika itu pula kemacetan jakarta kembali dimulai. Belum diteliti variabel yang mempengaruhi apa saja, tapi yang jelas hubungannya seperti itu.
Adanya hubungan berkebalikan tadi, membuat saya dan mungkin sebagian besar kaum pekerja di Jakarta sangat bergembira ketika dua minggu lalu liburan sekolah telah tiba. Kualitas kehidupan saya mengalami peningkatan yang signifikan. Waktu tempuh ke kantor yang biasanya 40-45 menit bisa menjadi 25-30 menit saja. Pulang kantor yang biasanya menghabiskan 50-60 menit, mendadak terpangkas menjadi 35-45 menit. Bayangkan, waktu berkumpul saya dengan keluarga bertambah rata-rata 30 menit per hari, rasa lelah di perjalanan juga relatif berkurang karena perjalanan lebih cepat, sholat maghrib juga bisa tenang karena sudah sampai rumah sebelum adzan, tunjangan juga aman dari potongan karena ga pernah telat, dan masih banyak peningkatan-peningkatan kualitas hidup yang saya rasakan.
Dari pertama di Jakarta, harapan saya, siapapun gubernurnya yang penting hilang macetnya. Bagi saya tolak ukur kesuksesan seorang gubernur Jakarta bukanlah kemajuan perekonomian, indahnya taman, atau lebarnya trotoar, tapi turun drastisnya tingkat kemacetan. Kemacetan sudah begitu memuakkan dan sudah banyak penelitian yang mengukur tingkat kemacetan ke dalam besaran kerugian secara ekonomi yang mencapai triliunan. Dari pengalaman liburan sekolah kemarin, saya jadi kepikiran untuk sumbang saran (nama) program kepada cagub dan cawagub DKI yang kini sedang bertarung. Bisa dibuat sebuah program anti kemacetan yang dinamai "Membuat Jakarta yang Libur Sekolah" atau semacamnya. Intinya bagaimana caranya jalanan Jakarta sehari-harinya seperti pas liburan sekolah, lancar dan menyenangkan. Perlu diteliti variabel-variabelnya lalu bikin kebijakan yang mengendalikan variabel itu. Misalnya, banyak yang beranggapan saat liburan sekolah bisa bebas macet karena berkurangnya mobil-mobil yang mengantar anaknya pergi sekolah dengan jumlah yang signifikan. Menilik dari hal itu bisa dipikirkan kebijakan yang tepat, seperti pembatasan kendaraan roda empat yang lebih efektif dan signifikan efeknya dengan metode yang kekinian bukan hanya sekedar rumus matematika bilangan ganjil atau genap. Itu cuma sekedar permisalan seadanya dari saya. Saya yakin jika calon no. 1 ataupun no. 3 yang menang nanti, pasti bisa memikirkan cara yang riil dalam mewujudkan usul dan saran saya tadi.
Hingga akhirnya hari senin ini para siswa dan siswi harus memakai seragam lagi untuk kembali belajar di sekolah. Ini menjadi pertanda bahwa sayapun harus kembali mengalami penurunan kualitas hidup dengan kembali habisnya waktu di jalanan dan kembali macetnya tiap titik perjalanan yang saya lalui. 
Benar saja, hari ini perjalan ke kantor memakan waktu 45 menit dan pulang ke rumah butuh 60 menit saja.

Satu pertanyaan yang sekarang muncul di benak saya, Kapan Liburan Sekolah lagi???

27 November 2016

Tentang Anak Pertama: Hampir Setahun

BY ekp No comments

Sebagai seorang ayah baru, saya mencoba terus meng-upgrade pengetahuan tentang dunia balita dengan membaca artikel-artikel di dunia maya dari petunjuk Dimas Kanjeng Google Pribadi. Tak lupa pula meng-install aplikasi android yang secara rutin mengirimkan info tentang perkembangan anak sesuai perkembangan usianya.
Hingga akhirnya kini buah hati sudah hampir setahun usianya. Seperti yang diterangkan oleh aplikasi dari 'bermain toko' tadi, di usia segini, anak saya sudah bisa diajak berkomunikasi dan berinteraksi. Dia sudah bisa mengerti dan merespon apa yang kita katakan meskipun masih belum bisa membalas dengan kata-kata. Jika kita meminta atau menginstruksikan sesuatu, dia akan melaksanakannya tanpa banyak bicara, menerapkan jargon salah satu iklan, "talk less, do more".
Pun sebaliknya demikian, jika dia sudah berkeinginan, maka hanya bermodal suara semisal "na.. na..", "aa..aa..", "nya..nya.." dengan mengacungkan jari, keinginannya harus segera dituruti. Kalo tidak, rengekan diiringi tangisan atau teriakan diiringi lengkingan bisa menggema di seluruh sudut ruangan. Begitulah dia, Aqila si anak pertama.
Jika sedikit kilas balik, dengan pertemuan yang mayoritas hanya di akhir pekan, saya dulu sempat dihinggapi 'om phobia'. Ya, sebuah ketakutan dimana nanti anak saya memanggil 'om' bukan 'ayah'. (hehehe)
Tapi ternyata darah dan daging emang ga bisa bohong, meski jarang ketemu, Aqila tetep lengket jika ada saya. Bahkan dia sudah duluan bisa bilang 'ayah' dan belum bisa ngomong 'ibu'. Sekarang di saat sudah mulai bisa berjalan dengan di-tetah (suatu metode mengajari anak berjalan dimana posisi orang tua berada di belakang dengan kedua tangannya menjadi pegangan buat anaknya saat berjalan), aqila lebih memilih di-tetah saya daripada ibu atau neneknya. Ini jadi kebanggan tersendiri bagi seorang ayah yang berstatus sebagai PJKA (baca: pulang jumat kembali ahad) seperti saya. Meski tak bisa dipungkiri, encok ini juga ikut menjerit jika me-netah terlalu lama, karena seiring bertambah 'dewasanya' usia.
Sabtu pagi menjelang siang kemarin, kala matahari sudah mulai terik, terdengar suara "na.. na..." dengan kedua tangan kecil mencoba meraih tangan saya. Itu modus aqila kalo minta di-tetah. Selangkah demi selangkah dia mencoba berjalan hingga akhirnya sampai di teras. Biasanya wilayah bermainnya hanya sampai teras. Tapi kali ini dia ingin lebih lagi, dia terus melangkah dan ingin turun sampai ke jalanan depan rumah. 
Meski sudah coba dicegah, tapi dia tetep kekeuh mau jalan. Saya pun mengikuti maunya, meski sedikit khawatir karena jalanan depan rumah masih banyak pasir dan tanah. Kekhawatirannya, aqila ngesot di jalanan dan mencoba belajar debus dengan memakan pasir atau tanah. Maklum salah satu hobinya adalah memasukkan berbagai macam benda yang dipegang ke dalam mulutnya.

Dan benar, baru beberapa langkah, aqila sudah memilih duduk maen pasir. Mengingat katanya kalo gak kotor ga belajar, maka saya membiarkannya sambil mengawasi kalau kalau dia sudah mulai lapar dan memakan pasirnya. 
Dia terlihat bahagia, walaupun bajunya yang baru ganti sudah belepotan. 
Jadilah siang itu diisi dengan jalan bersama dan bermain pasir. Sesi ini berakhir saat sudah masuk waktu makan siang yang ditandai dengan alarm "mamam.. " dari aqila.

Semenjak itu, aqila selalu minta jalan sampe depan rumah. Bahkan keesokan paginya jarak tempuh tetah-annya sudah lebih jauh lagi, sudah sampai rumah tetangga paling ujung. Tapi kegiatan utamanya tetap sama, duduk ngesot di jalanan dan maen pasir, sambil teriak-teriak kegirangan.
Mungkin dia terinspirasi dian sastro yang tidur di pasir dalam film Pasir Berbisik. Kalo gitu, nanti ayah bikinin film juga ya nak.. judulnya 'Pasir Berisik'.   :D

20 November 2016

Konsep (Kolom tentang Sepakbola): Bangun Tidur... Tidur Lagi..

BY ekp No comments

Sebuah coretan kecil tentang sepakbola yang didukung dengan analisis yang tak terlalu akurat dan seadanya, hanya opini belaka dan sekedar sok sok an saja.
 ****
Geliat timnas Indonesia mulai terasa kembali beberapa bulan terakhir. Ini seiring dengan gelaran piala AFF dimana tahun ini Myanmar dan Philipina mendapat giliran menjadi tuan rumah. Indonesia kebagian di grup yang dipertandingkan di Philipina. Berbagai media mulai dihiasi persiapan timnas mengarungi kompetisi terbesar untuk wilayah asia tenggara. Maklum, setelah sanksi FIFA untuk Indonesia dicabut di pertengahan tahun ini, piala AFF menjadi kiprah pertama tim merah putih di laga internasional.
Seperti biasa, persiapan timnas merah putih mengalami sedikit masalah karena berbenturan dengan kepentingan klub. Semenjak era liga rokok hingga kini liga kopi (mungkin nanti selanjutnya liga pisang goreng... biar komplit), entah kenapa selalu saja jadwal kompetisi antar klub di Indonesia sering beririsan dengan jadwal timnas. Bahkan kali ini lebih parah, jadwal liga dan jadwal Piala AFF berbarengan. Imbasnya, muncul kebijakan pembatasan maksimal dua pemain dari tiap klub untuk membela timnas.
Tentu ini bikin pening Mbah Riedl dalam memilih skuat yang pas. Dalam keterbatasan itu akhirnya Riedl mengumumkan anggota timnas Indonesia untuk bertarung di piala AFF 2016 yang dihuni kombinasi pemain muda dan pemain berpengalaman plus suntikan pemain asing berpaspor Indonesia. Sialnya, Irfan Bachdim yang sudah jadi andalan di beberapa uji coba, mengalami cidera menjelang turnamen dimulai. Makin apesnya, pemanggilan Pahabol sebagai pengganti terhalang kebijakan pembatasan pemain tadi. Persipura, klub yang mengontrak Pahabol keberatan karena mereka telah melepas dua pemainnya. Jadilah striker muda Mukhlis Hadi dipanggil menyusul rekan-rekannya ke Philipina.
Singkat kata singkat cerita, hari itu tiba juga. Di partai pertama, sang (mantan) Macan Asia yang baru bangun dari tidurnya siap menerkam si Gajah Putih, dengan taring keropos dan cakar tumpulnya.
Optimisme merebak ditilik dari wawancara sebelum pertandingan. Rata-rata punggawa tim garuda tak gentar dengan reputasi timnas Thailand yang sebelumnya menahan imbang Timnas Australia di partai ujicoba.

Tak melihat peringkat atau riwayat pertemuan kedua tim yang berat sebelah, Timnas merah putih dan seluruh supporter terlihat bersemangat untuk menjungkalkan pasukan Kiatisuk Senamuang (maklumi kalau salah tulis).
Pemain yang mayoritas muka baru membawa semangat dan kepercayaan diri yang baru pula. Semua pecinta bola Indonesia tentu berharap momen ini bisa menjadi terbangunnya kembali tonggak sepakbola Indonesia.

Namun semua optimisme dan gairah tingkat tinggi tadi dihentikan dengan tiupan peluit kick off dari wasit. Bagaimana tidak, seketika saat peluit wasit berbunyi, seketika itu pula kita tersadar bahwa semuanya masih sama. Timnas Thailand masih mendominasi Timnas Indonesia. Teerasil Dangda dkk dengan 4-2-3-1 nya sangat merepotkan Boaz Salossa dkk dengan 4-4-1-1 nya.
Jalannya babak pertama terlihat cukup timpang. Tanpa perlu melihat statistik, secara kasat mata bisa dilihat bahwa penguasaan bola didominasi oleh Tim Gajah Putih. Thailand langsung menggebrak dengan aliran bola cepat kombinasi umpan pendek dan umpan panjang yang akurat dan merepotkan pertahanan Indonesia. Sedangkan,  Timnas merah putih hanya bisa mengandalkan aliran bola cepat (hilang) kombinasi umpan lambung dan umpan nyasar.
Ini tentu memudahkan pemain-pemain Thailand membombardir langsung ke kotak penalti Indonesia yang membuat pemain Indonesia menerapkan strategi langsung panik buang ke depan. Alhasil, saat turun minum Indonesia sudah tertinggal 2-0. Macan yang tadi bangun, kini seolah tertidur lagi. Bayangan kekalahan telak sudah di depan mata.
Ternyata, Mbah Riedl berhasil memanfaatkan waktu jeda untuk memberikan petuah petuah yang punya dampak positif di ruang ganti. Ini terlihat dengan peningkatan intensitas permainan timnas Indonesia di babak kedua. Serangan cukup berbahaya meski cenderung sporadis dan tanpa skema coba diperagakan Andik dkk. Tampak jelas bahwa pelatih menginstruksikan untuk memanfaatkan kecepatan sisi sayap dalam diri Andik dan Rizky Pora. Tanpa dinyana taktik tersebut sukses, dengan dua gol penyama yang dicetak Boaz dan Lerby dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Dua gol itu jg tercipta denga cara yang hampir sama, umpan silang dan sundulan.
Tentu skor 2-2 ini membangunkan kembali optimisme yang sempat tertidur di akhir babak pertama tadi. Serangan Indonesia setelah itu juga tampak menjanjikan meski juga mengkhawatirkan. Kenapa mengkhawatirkan? jawabannya jelas karena skill pemain Thailand luar biasa dan pola permainannya juga rapi sehingga sangat berbahaya buat pertahanan Indonesia yang ditinggalkan para gelandang yang keasyikan menyerang. Sudah bukan rahasia lagi bahawa transisi dari menyerang ke bertahan merupakan masalah turun temurun timnas Indonesia yang tak kunjung terselesaikan. 
Dan benar saja, akhirnya Thailand bisa mencetak dua gol lagi yg prosesnya terlihat mudah karena pertahanan Indonesia yang lowong. Skor akhir 4-2 untuk timnas Thailand

Fiuhh, lagi lagi suka cita itu terenggut dalam waktu sekejap. Sempat cukup berharap dengan hasil imbang, akhirnya kalah telak juga. sang (mantan) Macan Asia kembali tertidur tak berdaya diinjak si Gajah Putih.
Tetiba saya teringat lagu almarhum Mbah Surip, "Bangun tidur...tidur lagi...bangun tidur... tidur lagi... banguuuunn... tidur lagi"
Tapi perjuangan di AFF 2016 belum usai. Semoga besok lawan Philipina, Tim Merah Putih bisa menunjukkan bahwa mereka memang Macan Asia.

07 Agustus 2016

Tentang Anak Pertama: Rindu yang Mendewasakan

BY ekp No comments

Sejak kuliah saya sudah memilih untuk merantau. Ya..pilihan saya sendiri karena memang saat lulus SMA saya sudah bertekad untuk tak lagi sekolah di kota kelahiran, Jember. Waktu itu sederhana alasannya, bosan tinggal di rumah bersama orang tua mulai dari lahir. Ingin belajar mandiri dan mencari jati diri, alasan klasik darah muda yang masih meletup-letup. Mimpi mulai dibangun dengan kuliah di STAN Jakarta yang sebenarnya kampusnya di Tangerang, meski orang tua lebih ingin saya tetap kuliah di Jember. Alasannya, orang tua pasti akan lebih senang jika anak mereka setiap hari ada di dekat mereka. Alasan yang waktu itu saya anggap terlalu dramatis.
Setelah berpuluh puluh tahun kejadian itu berlalu, malam ini, takdir membawakan saya hikmah yang begitu berharga. Yang menyadarkan, betapa saya salah dulu menganggap orang tua saya terlalu dramatis.
Ceritanya, saat ini saya sudah menjadi orang tua. Seorang anak perempuan cantik sudah dikaruniakan oleh Allah swt 8 bulan yang lalu. Kondisi mengharuskan saya untuk tidak bisa setiap hari ada di samping anak saya. Saya di Jakarta, anak dan istri di Jogja. Kami hanya bisa bercengkerama tiap akhir pekan. Sabtu pagi sampai Jogja, Minggu malam kembali ke Jakarta. Rutinitas melelahkan tapi menyenangkan. Bagaimana tidak melelahkan, 2 malam dalam seminggu dihabiskan dengan tidur duduk di kursi kereta. Tapi, bagaimana tidak menyenangkan, hari sabtu dan setengah hari minggu bisa maen dengan anak yang lagi lucu lucunya, dan juga istri yang lagi cantik cantiknya (boong dikit gpp kan ya bu..hihi..piss).
Momen di hari minggu malam selalu sama, saya berpamitan kepada anak istri untuk kembali ke Jakarta. Salim, cium pipi kiri pipi kanan, cium dahi, cium hidung, cium bibir...eits...ini ritual dengan anak lho ya (kalo sama istri kan rahasia..hehe). Setelah itu, saya bergaya bijaksana dengan menasehatinya untuk nurut sama ibunya dan segera tidur karena sudah malam. Anak saya biasanya tak terlalu menggubris dan hanya ceriwis ngomong dengan kosakata yang belum jelas.
Namun minggu malam kali ini berbeda. Saat saya melakukan ritual pamitan seperti biasa, tiba-tiba anak saya memandangi wajah saya dan menjulurkan tangannya, tanda minta gendong. Masya Allah, serrr rasanya, jadi berat untuk pulang ke Jakarta (maaf sudah mulai dramatis, hehe..), rasanya pengen menggendongnya lama dan menemaninya tidur dalam mimpi indahnya. Tapi apa mau di kata, tiket kereta tidak bisa diubah jadwalnya...mau tak mau saya harus berangkat ke stasiun. Sepanjang perjalanan dari kontrakan ke lempuyangan, pikiran saya tersadarkan bahwasanya memang sungguh lah berat berada jauh dari anak kita. Dan saya jadi mengerti kenapa dulu orang tua saya "menggandoli" saya agar kuliah di Jember saja.
Ternyata memang bukan suatu hal yang lebay ketika orang tua tidak mau jauh dari anaknya, meski anaknya sudah dewasa. Juga bukan hal yang terlalu drama ketika air mata orang tua berlinang saat ditinggal anaknya merantau.
Tapi sebagai orang tua yang sudah bertekad akan memberikan kebebasan pilihan kepada anaknya kelak, saya tak akan keberatan dan menghalangi ketika anak saya nanti memutuskan untuk merantau, 
,
,
,
,

Asalkan saya selalu ikut bersama dia, hehee.... Sekian.

08 Mei 2016

LIBUR

BY ekp No comments

LIBUR..., mempunyai dua sisi perspektif yang bisa memporak porandakan perasaan kita dalam sekejap...di dalamnya menyuguhkan dua keadaan yang bertolak belakang seketika..
Haha..pembukaannya hanya pura-pura serius aja...nyoba-nyoba pake bahasa sok berat.. :D
Ini sebenarnya hanya sebuah cerita tentang pengalaman hari libur yang mungkin dulu waktu di bangku SD sudah menjadi tugas wajib saat pelajaran bahasa indonesia di hari pertama setelah liburan...
Hmmh...tapi mungkin kurang pas juga karena sebenarnya yang ingin saya tulis bukan tentang apa yang dilakukan di hari libur, tapi tentang apa yang saya rasakan tentang hari libur...oke...mungkin dengan berat hati harus saya katakan bahwa saya cuma mau curhat :D
Ilustrasi awalnya seperti ini, saya adalah seorang kepala keluarga dari seorang istri dan seorang anak bayi yang senin sampai jumat seorang diri kemudian berubah menjadi seorang PJKA yang kata orang kepanjangannya Pulang Jumat Kembali Ahad...
Ya, saat ini saya kerja di Jakarta dan istri sedang tugas belajar di Jogja...situasi ini sudah berjalan kurang lebih 8 bulan dimana masih ada 7 bulan lagi yang harus dilewati...Mau ga mau tiap weekend sudah jadi rutinitas untuk bolak balik Jakarta-Jogja...
Ah, ilustrasinya kepanjangan..jadi benar-benar mirip tugas mengarang anak SD...hehehe..
Intinya, kondisi di atas membuat saya menyadari bahwa hari libur merupakan suatu perwujudan kombinasi antara senang dan sedih, antara bahagia dan kecewa, antara pertemuan dan perpisahan, antara penantian dan kepasrahan, dan yang pasti antara Jakarta dan Yogyakarta :D
Mari kita urai satu persatu (kecuali untuk yang "antara Jakarta dan Yogyakarta").
Yang pertama kombinasi antara senang dan sedih. Bagaimana tidak, libur tentu membuat senang karena lega sudah tidak berkutat dengan disposisi dan print-print an kerjaan. Tapi di sisi yang lain dalam sekejap dia akan menghadirkan kesedihan tatkala tersadar bahwa hari libur akan menghadirkan hari-hari kerja berikutnya. Itu jg belum menghitung kesedihan akibat raibnya penghuni buku tabungan ke beberapa mall dan swalayan.
Kombinasi antara bahagia dan kecewa juga serupa...Hari libur yang menghadirkan gegap gempita kebahagiaan untuk menyegarkan kembali otak kita dengan berbagai rencana dan agenda, tak akan segan membuat kita kecewa ketika dia berlalu begitu saja di saat kita masih ingin bermanja-manja dengannya.
Untuk yang selanjutnya, kombinasi yang baru buat saya, antara pertemuan dan perpisahan. Sebagai insan PJKA yang berdedikasi tinggi, hari libur bak cahaya terang di ujung kegelapan kerinduan (sori...ini lebay bin alay). Esensinya, di kala libur tlah datang di kala itu pula pertemuan dengan anak istri bagaikan setetes air di tengah keringnya kekangenan (maaf...makin alay dan lebay :D). Tapi serius, libur emang terasa sangat berharga bagi kaum kami (baca:PJKA), karena itu saat satu-satunya untuk bersua dan bercanda bersama keluarga. Namun lagi-lagi libur tak hanya menawarkan satu rasa, dia juga membawa serta perpisahan saat tanggal merah beranjak menuju tanggal warna hitam biasa.
Dan yang terakhir dan ga kalah ga penting, libur mengajarkan penantian dan kepasrahan. Jauh sebelum hari libur datang, penantian sudah dicanangkan. Liburan jadi hal yang ditunggu tunggu. Padahal kita juga tau, kepasrahan juga tak terelakkan ketika hari libur perlahan lahan berjalan pulang...
*Sebenarnya saya ga paham saya nulis apa ini, mungkin hanya mabok goyangan kereta dan enggan memejamkan mata...

17 April 2016

Tentang Anak Pertama: Lahirnya Takdir Lahir

BY ekp No comments

Momen kehamilan bukan saja momen menegangkan untuk seorang calon ibu, tapi juga buat calon ayahnya. Ya, yg perutnya "mblendung" memang pihak wanita, tapi pihak pria yang notabene pelaku "pemblendungan" itu juga ikut tegang membayangkan tahap demi tahap menuju proses lahiran.
Tepat usia kehamilan istri saya yg ke 7 bulan..eh 6 bulan..eh 6 bulan atau 7 bulan lah ya...anak kami yg masih tinggal di rahim dinyatakan oleh dokter bahwa posisinya sungsang (posisi dimana kaki yg berada di pintu keluar, seharusnya kepala yg ada di pintu keluar). Sebagai sesama newbie, saya dan istri tentu terkejut dan sedikit panik karena dari pemeriksaan pemeriksaan sebelumnya posisi bayi sudah benar, tidak ada masalah. "Apa yg telah kami perbuat sehingga si dedek berputar di dalam sana?", begitu pikir saya.
Belum lama saya merenung, ibu dokter sigap memberi tahu kami bahwa posisi sungsang tidak perlu dikhawatirkan...masih bisa diusahakan agar anak kami kembali ke jalan yg benar...ups, maksud saya ke posisi yg benar. Lalu dokter menyuruh perawatnya untuk mengajari istri saya teknik nungging, yang katanya bisa membuat posisi bayi menjadi sebagaimana mestinya. "Tiap habis sholat, diusahakan nungging kurang lebih 10 menit", ujar dokter menyarankan. Dan satu lagi, dokter memperingatkan untuk sebisa mungkin mengurangi guncangan atau tekanan pada pantat bayi, karena kepalanya akan menyundul penampungan air ketuban, sehingga berisiko ketuban pecah..ini bisa berbahaya. (jangan membayangkan bagaimana pantat bayi bisa terguncang atau tertekan.. :p)
Semenjak saat itu istri saya mulai aktif nungging setelah sholat dengan penuh harap anak kami bisa lepas dari posisi sungsang. Minggu demi minggu dilalui, saat periksa ke dokter, mesin USG masih tetap bilang kalau anak kami masih sungsang. Kalau sampai minggu minggu menjelang hari perkiraan lahir posisinya masih sungsang, maka mau ga mau istri saya harus operasi sesar. Makin stres lah istri saya membayangkan harus operasi, apalagi dia takut jarum suntik. Dengan lagak bijaksana saya selalu berusaha menenangkan dia untuk selalu sabar, pasrah, dan tetap berusaha (sambil membatin dalam hati jumlah tabungan untuk biaya operasi.. :D).
Beragam cara coba kami perjuangkan agar anak kami tak lagi sungsang. Mulai dari nungging saran bu dokter, sampai cara-cara lain yg kami dapat dari wangsit mbah google. Tapi apa mau dikata usaha tinggal lah usaha, Allah yang mentukan semua. Sampai mendekati HPL, anak pertama kami masih nyaman dengan posisi sungsangnya. Saat kami periksa terakhir, betapa kagetnya ketika dokter bilang bahwa kalau sudah minggu segini dan masih sungsang, lebih baik segera dijadwalkan operasi sesar. Operasi sesar yg terencana akan lebih aman daripada nanti keburu kontraksi. Mendengar penjelasan itu istri saya tercekat, saya terperanjat, jantung kami berdegup cepat, dan dompet saya tetiba terasa berat.
Bayangan kami sudah menuju ke lampu-lampu bulat terang yg menghadap kasur operasi tak kurang dengan barisan gunting dan pisau operasi seperti sinetron di tivi tivi.

Melihat ketegangan di wajah pasutri newbie, sang dokter langsung bilang "tenang, operasi sesar ga seserem yg dibayangin, nanti ibu boleh kok minta diputerin musik favorit supaya lebih rileks. Dulu saya juga operasi kok ketika lahiran anak kedua". Istri saya menimpali "ooh..gitu ya dok, ga serem kan ya, ga kerasa kan dok pas operasinya". Saya berkata (dalam hati) "ga ngaruh kali dok meski diputerin musik jg, ga bisa joget2 jg kan biar ga tegang, ini operasi sesar bukan goyang sesar..hehehe"
Setelah "dipaksa" untuk memikirkan tanggal operasi sesar di bulan Desember tahun lalu, akhirnya kami pun memilih tanggal 10 bulan 12 tahun 2015 sebagai hari lahir anak pertama kami. Kenapa kami memilih tanggal itu? tentu sudah dengan berbagai pertimbangan, bukan karena weton atau hari baik, tapi karena tanggal 11 bulan 12 tahun 2013 sudah lewat...tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 juga sudah 3 tahun lalu.. :D
Sejak saat itu lah kami pasrah dan bersiap-siap menghadapi operasi sesar. Kamipun harus ikhlas dan tenang, memang takdirnya sudah begitu, karena ternyata anak pertama kami lebih memilih untuk keluar lewat jendela, bukan lewat pintu...hehe..

21 Juli 2015

Belajar Jatuh Cinta

BY ekp No comments

Ramadhan belum lama berlalu...tapi layaknya semua yang kita lalui di lini waktu kehidupan...pasti menyimpan kenangan yang jika dipikirkan lebih dalam lagi pasti membawa serta hikmah dan pelajaran...
untuk bulan puasa tahun ini saya mencoba mengingat ingat lagi apa pelajaran baru yang bisa saya ambil dan sematkan dalam isi kepala...
dan akhirnya terbersit betapa bulan Ramadhan mengajarkan makna sebenarnya dari jatuh cinta...ya jatuh cinta...jatuh cinta pada level tertinggi malah...jatuh cinta kepada Rabb Sang Maha Pencipta, Allah swt...
Sebagaimana yang sering didengung dengungkan...ibadah puasa di bulan Ramadhan merupakan urusan langsung antara manusia sebagai hamba dan Allah sebagai Penguasa Dunia..
Allah secara tegas dalam Al Quran memerintahkan orang beriman untuk tidak makan...tidak minum...tidak berhubungan suami istri sblm wkt berbuka...dan tidak melakukan hal hal lain yg membatalkan puasa..
dan kita manusia...yg biasanya banyak menimbang nimbang dalam melaksanakan sebuah perintah...tanpa banyak protes dan mengeluh akan patuh untuk menjalankan ibadah puasa...meski merasakan lapar dan dahaga...
sikap patuh serta tidak banyak protes dan mengeluh ketika disuruh suruh ini adalah salah satu ciri dari sikap orang yang sedang jatuh cinta...
tengok saja lelaki gagah yang nurut aja saat kekasihnya meminta membawakan tas feminimnya saat jalan jalan..
lihat saja wanita cantik yg akan tergesa gesa menelepon kekasihnya untuk mengabarkan sudah sampai karena sebelum berangkat diminta kasih kabar saat sudah tiba di tujuan...
Itu hanya potongan kecil contoh yang bisa saya gambarkan...betapa seorang pria gagah yg biasanya selalu ingin tampil keren di hadapan orang...ga akan berpikir dua kali untuk melingkarkan tali tas feminim di bahu berototnya..
betapa wanita cantik yg biasanya setelah sampai di suatu tempat yg terpikir pertama kali adalah memoles kembali dandanannya agar tetap terlihat cantik...mengabaikan semuanya dan ga akan berlama lama untuk segera menelepon karena pesan sang kekasihnya seperti itu..
Ya..itu semua karena mereka sedang jatuh cinta...apapun yang diminta sang kekasih...apapun yang dilarang sang kekasih...akan dengan penuh kepatuhan dan kerelaan akan dilaksanakan..
Begitu juga puasa...kita diajarkan untuk jatuh cinta kepada kekasih sejati kita..Allah Sang Maha Pencipta...agar patuh kepada semua perintah Nya...agar menjauhi apa yang dilarang Nya...dan yang terpenting semuanya dilakukan dengan suka rela, senang hati, tanpa banyak protes, tak pernah mengeluh, serta total dalam pelaksanaannya...karena memang seperti itu lah jatuh cinta yang seharusnya...

17 November 2013

Semalam di Jogjakarta

BY ekp 2 comments





Tiket kereta sudah di tangan...tanggal keberangkatan juga sudah tiba...saatnya menuju Jogjakarta...

Yap...Sabtu itu sudah tanggal 26 Oktober 2013...saya dan dua kawan, Aziz dan Wisnu, terjadwal untuk berangkat menuju kota jogja yang sudah tersohor dengan kekayaan budaya dan keunikannya...undangan pernikahan Muhtar Nurwahidzain – lah yang membawa langkah kami singgah di Jogja..
Saat beberapa minggu sebelumnya undangan dari Muhtar diterima...kami sangat antusias untuk menghadiri...selain karena memang muhtar teman seperjuangan mendaki gunung, tempat perhelatan resepsi pernikahan di Jogjakarta jadi daya tarik tersendiri...bukan apa-apa, tidak bisa dipungkiri kalau Jogja punya “daya magis” yang mampu membuat orang rindu untuk mengunjunginya kembali...tak ada kata bosan meski sudah pernah menginjakkan kaki sebelum-belumnya...

Saya, Aziz, dan Wisnu sama-sama sudah beberapa kali ke Jogjakarta...tapi kami pun sama-sama tak kehilangan ketertarikan kepada kota yang digelari Daerah Istimewa ini...namun kali ini kami ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda...tercetus ide untuk menikmati malam di Jogjakarta dengan berjalan kaki sampai lelah membuat kita berhenti...biar kaya backpacker-backpacker gitu (hehe..)..kami pergi tanpa membuat rencana..prinsip yang kami usung dalam perjalanan kali ini adalah biarkan semuanya berjalan tepat pada waktunya...segala sesuatunya akan sengaja kami buat tiba-tiba meski tetap dengan perhitungan tentunya...dan satu hal lagi yang penting, kami sepakat untuk tidak mencari tempat penginapan...hotel, homestay, losmen, motel atau apapun namanya kita coret dari tempat yang akan kami jejaki...kos-kosan atau rumah teman juga ga masuk itungan...ya kami bertiga sebenarnya punya temen di Jogja yang tentu dengan senang hati kalo kami ingin menumpang di sana...tapi karena dari awal kami sudah setuju untuk tidur di sedapatnya tempat, maka kami bertigapun sepakat untuk tidak menghubungi teman-teman kami yang berdomisli di Jogjakarta...

Jam sudah menunjukkan pukul 6.15, saya dan wisnu dengan sedikit tergesa-gesa segera meninggalkan kosan untuk berangkat ke Stasiun Pasar Senen, maklum keberangkatan kereta tertulis pukul 6.50 di tiketnya...untungnya jarak kosan kami dengan Stasiun Pasar Senen tidak terlalu jauh, kami berdua sudah janjian dengan Aziz untuk bertemu di stasiun...Tas ransel jadi pilihan untuk tempat perbekalan...tak lupa juga kamera yang nanti akan bertugas mengabadikan momen-momen penting dan menarik...

Singkat cerita, tepat pukul 6.50 waktu Indonesia bagian barat, kepala Stasiun Pasar Senen meniup peluitnya untuk memberangkatkan kereta Fajar Utama Jogja yang kami tumpangi...kereta api pun perlahan-lahan menyusuri rel meninggalkan Jakarta menuju kotanya Sri Sultan Hamengkubuwono...

Sarapan roti jadi kegiatan pertama di dalam kereta, maklum belum sarapan...setelah kenyang, kami bertiga menyiapkan posisi terbaik untuk melanjutkan tidur yang tertunda karena harus packing tadi selepas Subuh...bantal tiup sudah siap, playlist di handphone sudah diputar, headset juga sudah menempel di kuping, pelan-pelan mata saya pun terpejam...Wisnu masih setia dengan buku bacaan tebalnya tentang pendakian gunung, tapi sepertinya lama-kelamaan dia juga sudah terbuai ke dunia mimpi persama buku yang masih dipegangnya....Nah, kalo si Aziz, tanpa instruksi lebih lanjut, dia tanpa basa basi sudah molor duluan, mungkin dia merasa damai duduk di sebelah cewek berjilbab di atas kereta (hahaha..)

Tak terasa laju kereta mulai melambat...jam tangan menunjukkan pukul 16.05...pantas langit di luar sudah mulai teduh, ternyata sore sudah menjelang...sepertinya sudah hampir sampai di Jogja...benar saja, tak seberapa lama kereta terhenti di stasiun yang terpampang papan besar bertuliskan “Yogyakarta”...kami telah sampai dan petualangan akan segera diawali...

Karena tadi belum sempat Sholat Dzuhur, maka yang terbaik untuk mengawali adalah Sholat Dzuhur terlebih dahulu dengan men-jama’ bersama Sholat Ashar, maklum musafir...di manapun keberadaan kita, tak boleh tertinggal namanya Sholat 5 waktu...lumayan badan jadi lebih segar setelah dibasuh air wudhu’...pikiran pun diharapkan jadi lebih plong sehabis Sholat...agar mood menjadi bagus dan suasana hati menjadi bahagia...

Selepas Sholat..kami memutuskan istirahat sejenak di bangku stasiun... meregangkan otot-otot yang sedikit kaku karena lama duduk di kereta...lalu kami saling bertanya mau kemana sebentar lagi...dan belum ada ide yang terlintas karena memang belum dipikirkan tujuan di Jogjakarta ini...akhirnya disepakati bahwa kami akan tetap menunggu di stasiun sambil menanti saat Maghrib tiba...supaya mudah menunaikan Sholat Maghrib dan Isya’ yang dijama’, jadi ga perlu nyari-nyari tempat sholat di perjalanan nanti...

untuk urusan menunggu di stasiun sampai Maghrib kami sudah sepakat, tapi kami ternyata ga sepakat untuk masalah perut..Aziz sudah ga kuat untuk mengisi perutnya yang mulai menggema...saya dan Wisnu sudah ga kuat untuk membuang isi perut yang sudah meggedor-gedor ingin keluar...akhirnya kali ini kami mengambil jalan masing-masing...tentunya secara bergantian karena harus ada yang menjaga tas-tas perbekalan kami...

Waktu penantianpun telah lekang...adzan maghrib merdu berkumandang...kami bertiga bergantian melaksanakan Sholat...demi ingin segera menikmati suasana malam Jogjakarta, apalagi ini malam minggu....menurut kabar yang kami dengar, kota Jogja ga ada matinya kalau malam minggu tiba...saat sholat usai ditunaikan, berkemas sebentar, dan kami meninggalkan stasiun dengan kesepakatan menyusuri Malioboro dengan berjalan kaki...maka demi menjaga kesehatan dan mengisi tenaga, kami mampir di warung di Jalan Pasar Kembang yang tak jauh dari stasiun...1 mangkok soto serta 1 mangkok bakso lahap masuk ke lambung saya dan Wisnu yang memang belum makan dari tadi..sedangkan Aziz yang sudah makan sebelumnya, cukup penuh perutnya dengan semangkok soto...tak lupa segelas teh manis hangat untuk mengembalikan energi....

Setelah perut kenyang dan badan hangat...tiga anak manusia ini mulai berjalan menyusuri Malioboro...ternyata malam minggu memang malam yang panjang di Malioboro...bagaimana tidak belum lama lepas dari waktu Maghrib saja jalanan sudah penuh hiruk pikuk manusia dengan beragam aktivitasnya....sudah banyak orang yang berlalu-lalang...tak ketinggalan pengunjung yang keluar masuk toko penjual cindera mata mulai tas, batik, dan sebagainya...lapak-lapak pedagang di sepanjang Malioboro juga telah ramai dengan pembeli yang terlihat tawar menawar....belum lagi lalu lintas yang mulai padat dengan kendaraan bermotor yang melaju pelan-pelan...delman dan becak juga selalu menghiasi jalanan malioboro ini...benar-benar pemandangan malam yang menyenangkan...membuat kami bertiga makin bersemangat berjalan dengan tas ransel yang mulai terasa berat di atas punggung....

Sama seperti sebelum-sebelumnya, kami berjalan sebenarnya tanpa tujuan...hanya terus melangkah mengikuti jalanan Malioboro...sesekali kami berhenti untuk mengabadikan keadaan sekitar dengan kamera yang sudah dibawa...tak lupa juga untuk bernarsis ria...sungguh malam minggu yang penuh suka cita...di situ seolah semua orang terlihat bergembira...melepas segala penat yang mungkin sebelumnya dirasa...panggung hiburan dari musisi-musisi jalanan yang konser di pinggir jalan Malioboro malam itu juga turut menambah kemeriahan...sekelompok pria muda dengan alat-alat musik pukul seperti drum dan kulintang bersemangat memainkan musik yang membuat beberapa anak kecil dan orang-orang di sekitarnya tak sungkan untuk berjoget....kerumunan penonton yang lain sibuk ikut bernyanyi, memotret dengan kamera handphone, maupun hanya terdiam menikmati alunan lagyang dimainkan....tak lupa untuk mengisi kotak yang disediakan sang musisi dengan uang seikhlasnya sebagai bentuk apresiasi atas hiburan yang mereka suguhkan...


Puas memotret-motret pertunjukan musik jalanan dan sedikit bergoyang gara-gara lagu “buka dikit joss” yang dimainkan...kami bertiga kembali meneruskan perjalanan...sangat luar biasa memang kawasan malioboro ini...ramai tidak terkira tapi masih terasa aroma tenggang rasa...tak ada bunyi klakson yang membabi buta karena tak sabar dengan padatnya jalan raya...menyeberang jalan juga tak susah karena pengguna jalan baik itu mobil atau motor akan dengan senang hati untuk mengalah memberikan jalan...tak ada juga orang yang mengumpat karena tiba-tiba ada becak yang meng ”kring-kring” di belakangnya atau ada delman yang berjalan di tengah keramaian...

Pegal sudah mulai menghinggapi tiga pasang kaki yang terus berjalan dari tadi...punggung juga sudah mulai tak nyaman dengan tas ransel yang seakan massanya bertambah...ingin duduk sebentar tapi sepertinya susah sekali mencari persinggahan...semua tepi jalan sudah penuh dengan orang-orang yang menikmati malam minggu...apa mau dikata sepertinya pilihan yang bijak adalah meneruskan perjalan hingga ke lokasi nol kilometer...perempatan besar di ujung malioboro yang ramai itu biasanya menyediakan tempat untuk duduk melepas lelah...keramaian di nol kilometer juga dapat menghindarkan kami  dari rasa bosan dan rasa kantuk.....

Tiba juga kami akhirnya di nol kilometer...lihat kanan kiri sebentar untuk mencari lokasi yang masih sedikit lengang untuk duduk dan meletakkan tas ransel kami...dipilihlah taman pinggir jalan di seberang kantor BNI (entah ini taman atau apa namanya..hehe)...beton yang jadi pembatas taman itu lumayan untuk duduk dan nongkrong...taspun satu per satu kami turunkan diletakkan berdampingan agar tidak tercecer...setelah itu kami pun duduk dan meluruskan kaki...sungguh kenikmatan yang tiada tara...menghilangkan rasa pegal meski hanya sementara... 

Sekeliling sungguh sangat ramai...makin malam makin bertambah orang yang kongkow di pinggir jalan situ...kerennya, di situ banyak tersaji berbagai tontonan yang bisa mengusir kebosanan...meriah sekali suasana malam di kawasan itu...tepat di depan Gedung Agung, komunitas mahasiswa dari Indonesia timur menampilkan tarian khas daerah mereka (maaf saya tidak tau nama tariannya)...penuh sekali yang menonton pertunjukan tarian daerah itu...momen seperti ini tak boleh dilewatkan...saya keluarkan kamera dan ambil gambar beberapa jepret demi mengabadikan hal yang mungkin susah saya temui di Jakarta...tidak hanya sampai situ di sudut yang lain, di depan benteng Vredeburg, ada sekumpulan orang yang nampaknya dari perguruan pencak silat menyuguhkan atraksi mulai dari “maenan” api sampai aksi perkelahian atau dalam istilah pencak silat kalau tidak salah namanya sabung...tak ingin ketinggalan sayapun menyeberang untuk nonton dan jeprat-jepret lagi...di dekat pagelaran pencak silat itu ternyata ada sekelompok pemuda yang berdandan bak tokoh-tokoh horor seperti vampire, pocong, zombie, dan lain-lain...mereka menawarkn pengunjung untuk foto bersama mereka...tentu dengan imbalan seikhlasnya lagi-lagi sebagai apresiasi untuk aksi mereka...

Puas memotret sayapun kembali ke teman-teman saya yang masi duduk istirahat di tempat yang sama...tenggorokan juga sepertinya sudah waktunya dibasahi...ternyata tak jauh dari tempat kami duduk ada komunitas dance apa namanya yang sepertinya sedang berlatih sekaligus unjuk kebolehan...belum lagi sekelompok pemuda pemudi penggemar fotografi yang siap dengan kamera dan tripodnya untuk mengabadikan kondisi sekitar...dan tak lama rombongan mahasiswa muslim menggelar orasi tepat di depan kami bertiga duduk...

Alangkah terkejutnya ketika aksi pencak silat di depan benteng Vredeburg tadi kini berpindah aksinya di tengah jalan...mereka menunjukkan kelihaiannya saat kendaraan berhenti saat lampu merah...cara yang unik menurut saya...karena saya masih lelah...akhirnya Aziz yang menonton dan memotret seni bela diri di tengah jalan itu....


Makin malam makin beragam saja suasananya...dari mulai gerombolan
pemuda yang memilih jogging di malam hari...remaja remaji yang menawarkan bunga kepada orang yang duduk-duduk...kumpulan penggemar sepeda...hingga anak muda yang sibuk maen-maen bola basket sendiri di depan saya, entah apa tujuannya (hahaha)...

Tak ketinggalan untuk sedikit menumbuhkan jiwa kenarsisan dengan berfoto di pinggir jalan yang masih saja ramai kendaraan hingga delman...meski nampaknya Aziz sedikit malu-malu dengan alibi sudah pernah foto di sana katanya...sedang asyik-asyiknya, tak dinyana terdengar “nguing-nguing” sirine mobil pemadam kebakaran yang tanpa basa basi langsung melawan arus ke arah Malioboro....pasti ada kebakaran yang mesti segera ditangani di daerah Malioboro....tapi kami dan orang yang ada di kilometer nol ini sepertinya tidak terlalu merisaukannya meski beberapa kali kemudian mobil pemadam kebakaran kembali lewat...

Malam makin larut, mata saya dan Aziz sepertinya sudah berkurang banyak watt-nya dan kami memutukan untuk streaming El Clasico yang sudah kick off untuk mengusir rasa kantuk...sedangkan Wisnu?...kalau dia sepertinya masi
h kuat dengan telepon genggam yang mungkin sudah dua jam lebih menempel di telinganya...asyik ngobrol dengan kekasih hati tanpa menghiraukan hiruk pikuk di sekelilingnya...seakan sinyal cuma milik mereka berdua....(gosip dikit...hahaha..piss Nu...)

Jam tangan menunjukkan jam 12 malam saat gerimis mulai  turun dari langit malam Jogja...seperti layaknya misbar...beberapa orang termasuk kami bertiga memilih berangsur-angsur meninggalkan perempatan besar itu...kembali berjalan kembali menyusuri Malioboro...di tengah Malioboro yang mulai gelap nampak ramai orang yang sepertinya sedang menonton sesuatu... mereka sedang menonton sisa-sisa kebakaran yang ternyata terjadi di salah satu toko di kawasan Malioboro..pantas saja mobil pemadam kebakaran tadi berbondong-bondong ke arah situ....

Setelah ikut sejenak menengok toko yang kebakaran, kami bertiga melanjutkan perjalanan...memang rencananya kami akan menuju kawasan Tugu saat jam 12 malam...tapi melihat kondisi fisik dan mata yang mulai sering berair, akhirnya kami membatalkan rencana dan memilih untuk mencari angkringan di sekitaran malioboro untuk mengisi perut dan numpang tidur-tiduran sambil melanjutkan El Clasico yang memasuki babak kedua...sebuah angkringan akhirnya kami pilih untuk singgah....nasi goreng spesial dan pecel ayam ditambah teh manis anget kembali menghiasi meja kami...

Tadinya kami berniat untuk tidak tidur hingga pagi hari...namun setelah ditimbang-timbang, ga mungkin kan besok kami bertiga kondangan dengan mata sepet dan berkantung...jadilah memikirkan dimana kami bertiga akan tidur...mau tidur di angkringan juga ga enak sama penjualnya...belum tentu juga bka sampai pagi...pikir dipikir kami pun belum menemukan solusi...karena uda kelamaan di angkringan itu, akhirnya diputuskan untuk kembali jalan sampai menemukan tempat untuk tidur...mencari masjid yang masih buka juga hasilnya nihil...hingga di tengah perjalanan ada orang yang menawarkan hotel kepada kami bertiga yang memang sudah tampak lesu dengan bawaan ransel...hampir saja kami tergiur dan melanggar komitmen awal untuk tidak tidur di hotel atau sejenisnya...untung saja kami masih tersadar dan memutuskan untuk menolak tawaran orang itu dan kembali berjalan.....

Langkah kaki akhirnya sudah sampai di ujung jalan Malioboro dan kami belum juga mendapat ide mau tidur dimana...lihat kanan kiri kami menemukan sebuah pos pinggir jalan di depan entah terminal atau tempat parkir di seberang mailoboro, saya ga tahu apa namanya...hehehe..di situ terlihat banyak orang yang sudah nyenyak tidur “ngemper” dengan lilitan sarung dan beralaskan lantai...keputusan yang bagus sepertinya untuk bergabung bersama mereka tidur di pos pinggir jalan itu...pas sekali saat kami memang sudah sangat lelah...namun sejenak kami berpikir ulang mengenai pertimbangan keamanan, mengingat letaknya yang di pinggir jalan, sepertinya lokasinya cukup rawan...pun diputuskan untuk membatalkan rencana tidur di pos tadi dan terus jalan mencari peraduan....

Beberapa menit kami terhenti untuk mencari inspirasi, akhirnya stasiun muncul menjadi solusi...kami putuskan untuk mencoba peruntungan di stasiun saja...masuk lewat pintu depan stasiun Jogjakarta...kami melihat di ruang tunggu lantai bawahnya ada beberapa bangku panjang yang masih kosong...sebagian lagi sudah dipake orang untuk rebahan dan terlelap....waah..alhamdulillah...akhirnya kami menemukan tempat untuk tidur juga...pilihan yang cocok sepertinya karena stasiun insyaAllah cukup aman untuk sekedar bermalam...kami bertiga pun memilih bangku masing-masing...dan merebahkan tubuh kami di atasnya, bangku-bangku panjang stasiun itu laksana kasur super empuk bagi kami bertiga yang sudah super ngantuk....Jam stasiun sudah menunjukkan pukul dua dini hari hingga perlaham kami bertiga benar-benar terlelap dan kembali berjalan...berjalan ke dunia mimpi....

Petualangan kami kali ini memiliki ujung yang happy ending....berhasil menikmati malam di Jogjakarta yang tak ada habisnya....menyusuri Malioboro hingga tidur nyenyak di stasiun sampai pagi menjelang...mentari pagi menyambut dengan bulat sempurna...dengan cahaya jingganya yang menenangkan...

Perjalanan ini membuktikan kepada diri kami bahwa hari-hari di dunia ini hanya perlu dilalui dengan bahagia dan apa adanya...tanpa beban, jalan terus sampai setiap solusi akan datang tepat pada waktunya...tak perlu terlalu banyak rencana tetapi tetap percaya dan berdoa...karena semuanya sudah disediakan oleh Allah Yang Maha Kuasa...manusia tak akan dibiarkan menderita oleh-NYA...segala kesusahan dan mungkin kadang kebimbangan hanya cara dari-NYA supaya kita terus berjalan dan terus menyusuri jalanan kehidupan kita yang penuh hiruk pikuk keceriaan atau sepi dan kegelapan yang sekali-kali menghiasi...yang terpenting terus langkahkan kaki tuk menjalani sampai benar-benar harus terhenti...solusi dari Ilahi pasti akan menghampiri...insya Allah... 


06 Oktober 2013

Sapaan Sang Mentari : Penanjakan yang Memanjakan

BY ekp No comments



Jawa Timur adalah salah satu wilayah di tanah Jawa yang kaya akan gugusan gunung di atasnya.... yang sudah cukup termasyhur tentu adalah gunung Bromo...selain ciri khasnya dengan budaya tengger...Bromo merupakan gunung yang dikelilingi dengan pemandangannya eksotis....begitu mudah mencari lokasi keren di gunung ini...dan poin plusnya, jalur menuju Bromo ini sudah sangat mudah...jalanan beraspal mulus meliuk-liuk dari Probolinggo hingga ke Cemoro Lawang yang merupakan pintu gerbang perjalanan menikmati sajian keelokan Bromo....dari Cemoro Lawang pun tak perlu jalan kaki, karena Jeep-Jeep telah siap sedia mengantar ke tempat-tempat spesial di sana....

Eksotisme Bromo takkan pernah lengkap tanpa diawali dengan menyaksikan terbitnya matahari dari ufuk timur dunia...untuk itu dini hari akan jadi waktu yang pas memulai perjalanan di kawasan yang masuk sebagai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu...Penanjakan pasti jadi tujuan pertama karena menyimpan sudut yang tepat untuk menanti kemunculan sang surya...

Raungan mesin dan pasir yang beterbangan akibat putaran roda jeep mengantar menyusuri jalanan berkelok yang memang berpasir itu...meski pandangan terhalang kabut pasir dan gelapnya sekitar...jeep terus melaju tak terhadang...

Laju terhenti...itu berarti Penanjakan sudah menanti...sekilas tak ada yang spesial dari tempat ini...hanya tempat tinggi di pinggir jurang yang dihiasi bukit yang dinamakan “Bukit Cinta”...tapi jangan salah...saat lebih teliti lagi melihat pemandangan di sekelilingnya...akan ditemukan arti dari keindahan yang sebenarnya...hamparan awan bak lautan kapas..putih terbentang seolah menjadi alas bagi gunung Batok, gunung Bromo, dan gunung Semeru yang fenomenal itu...

Pertunjukannya belum berhenti sampai di situ, karena di Penanjakan bintang utamanya adalah sang mentari...dari sinilah kemunculannya dapat disaksikan...hawa dingin seolah menambah dramatis momen penantian terbitnya matahari pagi itu...

Langit gelap perlahan diwarnai oleh semburat cahaya jingga yang itu pertanda sang surya akan segera tiba...tanpa perlu izin...sang mentari melangkah naik menuju singgasana...bumi pun seakan tak sabar untuk diterangi oleh sinar sang surya...pelan-pelan matahari terbangun dari peraduannya...muncul sedikit demi sedikit...hingga nampak sempurna bulatnya memancarkan cahaya yang menjadi harapan dunia hari ini.... perlahan mentari datang...perlahan dunia menjadi terang...

Sang mentari menyapa dengan kehangatan yang dibawanya...sapaan sinar-sinarnya memberi nuansa damai bagi penghuni bumi....Bromo, Semeru, Batok seakan bersorak sorai bahagia menyambut datangnya sang pemberi cahaya...

Beruntungnya pagi itu menjadi yang pertama disapa oleh sang surya....indah luar biasa...lukisan asli dari Yang Maha Kuasa melalui suguhan mentari pagi-NYA....

Tak pernah habis kekaguman tiap menyaksikan matahari terbit di pagi hari...momennya sama tetapi sensasinya selalu berbeda...belum lagi pemandangannya yang selalu menyita...kali ini giliran penanjakan memberikan cerita menikmati pesona sang mentari yang baru bangun dari tidurnya...

Maka tak pernah lupa pula bahwa keindahan alam semesta ini dari Sang Maha Pencipta...mata boleh tak berkedip memandang...mulut boleh ternganga saking senangnya...kaki boleh tak mau beranjak karena kekaguman yang memuncak....tapi bibir tak boleh berhenti bertasbih memuji Sang Penguasa Alam Semesta....