09 Mei 2017

Tentang Anak Pertama: Tendangan Pertama

BY ekp No comments

Jam di handphone sudah menunjukkan pukul 12.22 dini hari...mata ini masih terbuka setelah menonton pertandingan bola, meski badan sudah terbaring di atas kasur...sedangkan istri sudah lama terlelap di samping saya..
Karena belum ada tanda tanda akan segera pergi ke dunia mimpi...iseng saya mengelus perut istri yang sudah membumbung tinggi...
ternyata sedikit sentuhan itu malah membangunkan dia...
Sebab tak enak hati sudah mengganggu kenyenyakan istri saya...tanganpun kembali saya tarik untuk menyangga kepala sambil menunggu terlelap...
Namun tak lama, wanita yg dari tadi tidur di samping saya tiba-tiba menarik tangan saya menuju perutnya...
Ketika itu saya ga langsung "ngeh" apa maksudnya.. Tapi saya turutin saja.. Dia pun tak berkata-kata hanya terus memegangi pergelangan tangan saya yang kini menempel di perutnya...
Beberapa waktu berselang..kemudian terasa sedikit kegaduhan di balik perut istri saya...ada makhluk yang sepertinya sedang bergerak atau mungkin hanya sekedar mencari "posisi wuenak" di dalam sana...
Penasaran saya memindahkan tangan ke beberapa titik di perut istri..tapi dia kembali menarik tangan saya ke pusat kegaduhan yang terjadi tadi...
Dan...terdengar suara "dug" (kalau ini hanya saya bikin sedikit dramatis aja :D) akibat benda mungil yang saya rasakan bergerak menonjol di perut istri saya...
Akhirnya...saya merasakan tendangan pertama (semoga saya ga salah..mungkin itu bukan tendangan tapi pukulan) dari buah hati saya di dalam rahim sana...
Ah...luar biasa rasanya...setelah sekian bulan ketika istri saya bilang bahwa sang bayi bergerak dan saya hanya bisa mendengar ceritanya...malam itu akhirnya saya merasakan tendangan anak saya pertama kalinya...
Subhanallah... :)

03 Mei 2017

Benar-Benar Merasakan

BY ekp No comments

Petang itu seperti biasa si vahri sudah siap digeber melintasi rute pulang kantor. Trayeknya Lapangan Banteng - Rawa Belong via Istana Negara - Jatibaru - Slipi. Vahri nampak sedikit lusuh hari ini karena terpaan panas dan hujan saat long weekend. Ya, si Vahri yang nama lengkapnya vahrio ini memang cukup bekerja keras selama libur tiga hari kemarin.
Tapi inti ceritanya bukan disitu, singkatnya, ketika sampai di samping Istana negara alangkah terkejutnya saya ketika melihat jajaran kendaraan bermotor dari berbagai usia dan jenis kelamin bergumul rapat di depan sana. Tak biasanya seperti itu karena sehari-harinya keruwetan baru dimulai di jalan abdul muis. Dengan sedikit meliuk-liuk di antara deretan mobil, kami akhirnya berhasil sampai di depan Istana Negara. Sempat saya standar si Vahri sambil celingukan ke arah depan karena semua kendaraan tak bisa jalan. Alamak, pemandangan yang rumit nampaknya karena barisan kendaraan sudah membentuk simpul mati.
Di tengah suasana jalanan yang amburadul itu tiba-tiba nampak barisan hitam-hitam dengan sirine biru menyala-nyala keluar dari gerbang istana yang sudah terbuka sejak lama. Makin menambah kebuntuan lah ini karena arus kendaraan dihentikan sejenak demi memberi mereka jalan. Entahlah siapa yang ada di dalam mobil mewah yang dikawal itu, yang pasti mereka dengan nyaman melenggang di tengah kemacetan panjang.
Karena itu terjadi di depan kediaman kenegaraan presiden, beberapa detik saya jadi membayangkan seandainya saya adalah Pak Jokowi. Jika seandainya Pak Jokowi yang seorang Presiden Indonesia ada dalam posisi saya saat itu, bagaimana ya reaksinya?
Ya, coba bayangkan Pak Jokowi naik motor sendirian tanpa pengawalan di tengah kemacetan yang tak tahu dari mana asal muasalnya. Pasti ada rasa sebal dan kesal, sama halnya dengan saya karena seluruh penjuru mata angin tak ada ruang untuk sekedar memajukan kendaraan. Bedanya, saya hanya bisa menggerutu dan ngomel-ngomel sendiri, tapi kalau seandainya saya adalah Pak Jokowi, mungkin saya bisa ngomel-ngomelin Gubernur DKI atau Kapolda metrojaya atau siapapun pejabat yang bertanggung jawab atas kemacetan Jakarta yang tak kunjung teratasi. Saya akan bisa segera berpikir dan bertindak nyata karena saya adalah pimpinan tertinggi di Indonesia yang punya kuasa.
Masih ingat dulu Pak Dahlan Iskan yang masih Menteri BUMN sempat ngamuk dan membuang kursi pos jaga tol? Beliau melakukan itu akibat pelayanan gerbang tol yang lama karena jumlah petugas pintu tol tidak seperti yang seharusnya sehingga antrian mobil menjadi panjang. Beliau bisa bertindak seperti itu karena saat itu beliau punya kuasa atas Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol tersebut. Jadi beliau bisa langsung memberikan "teguran" secara nyata dengan caranya.
Itu lah yang selama ini sedikit tidak pas di hati saya. Bagaimana pejabat terkait bisa benar-benar memikirkan solusi konkrit terhadap suatu masalah kalau beliau tidak benar-benar merasakannya? Dalam contoh kasus ini, Bagaimana pejabat terkait bisa benar-benar memikirkan solusi konkrit atas kemacetan yang merajalela jika mereka tidak pernah benar-benar merasakannya karena selalu dikawal kemana-mana. Bahkan untuk beberapa level pejabat, ada yang harus disterilkan jalanannya hanya agar mereka bisa melintas dengan aman dan nyaman.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan betapa muak dan menjengkelkannya tiap hari berangkat dan pulang kerja selalu bermacet-macet ria.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan masuk angin karena kaos dalam basah keringetan akibat panas-panasan macet parah.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan frustasi karena harus menahan emosi menghadapi tensi jalanan yang tinggi.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan semua itu. Makanya langkah mereka hanya berkutat pada wacana, hasil membaca dan teori belaka.
Seingat saya belum pernah dengar berita ada seorang Presiden, atau seorang gubernur atau kapolda metrojaya atau pejabat berwenang lainnya yang sedang mengendarai mobil atau motor sendiri di Jakarta kemudian turun dari kendaraannya dan marah-marah karena kemacetan parah yang sering kali tak tahu apa sebabnya.
Memang pengawalan pejabat itu halal sesuai ketentuannya, tapi buat saya itu malah membuat manja dan pejabat tak bisa benar-benar memikirkan masalah yang dirasakan rakyat jelata. Sekali lagi, karena mereka tidak benar-benar merasakan tidak enaknya.
Semua manusia akan bereaksi atas apa yang dialami dirinya sendiri. Bedanya, rakyat jelata hanya bisa ngomel-ngomel sendiri dan dipendam dalam hati, sedangkan pejabat yang punya kuasa bisa ngomel-ngomelin bawahannya dan mengambil kebijakan nyata.

09 Januari 2017

Liburan Sekolah

BY ekp No comments

Dalam kurun waktu dua minggu yang lalu, anak-anak sekolah menikmati masa liburannya. Dari anak SD sampai SMA bisa rehat sejenak dari buku pelajaran mereka. Layaknya dulu tugas dari guru bahasa indonesia untuk menceritakan pengalaman selama libur, sungguh saya ingin menceritakan kegembiraan saya selama liburan sekolah kemarin meski saya sudah tak sekolah lagi.
Sebagai penghuni DKI Jakarta, sudah tak asing lagi dengan hiruk pikuknya kemacetan jalanan. Terutama ketika hari kerja di pagi dan sore hari. Percaya atau tidak, kemacetan di Jakarta ini punya korelasi dengan liburan sekolah. Tanpa perlu menggunakan SPSS atau sejenisnya, sudah mahfum bahwa tingkat kemacetan jakarta berbanding terbalik dengan liburan sekolah. Saat liburan sekolah telah tiba, maka kemacetan jakarta seketika akan pergi. Begitu pula saat liburan sekolah telah usai, seketika itu pula kemacetan jakarta kembali dimulai. Belum diteliti variabel yang mempengaruhi apa saja, tapi yang jelas hubungannya seperti itu.
Adanya hubungan berkebalikan tadi, membuat saya dan mungkin sebagian besar kaum pekerja di Jakarta sangat bergembira ketika dua minggu lalu liburan sekolah telah tiba. Kualitas kehidupan saya mengalami peningkatan yang signifikan. Waktu tempuh ke kantor yang biasanya 40-45 menit bisa menjadi 25-30 menit saja. Pulang kantor yang biasanya menghabiskan 50-60 menit, mendadak terpangkas menjadi 35-45 menit. Bayangkan, waktu berkumpul saya dengan keluarga bertambah rata-rata 30 menit per hari, rasa lelah di perjalanan juga relatif berkurang karena perjalanan lebih cepat, sholat maghrib juga bisa tenang karena sudah sampai rumah sebelum adzan, tunjangan juga aman dari potongan karena ga pernah telat, dan masih banyak peningkatan-peningkatan kualitas hidup yang saya rasakan.
Dari pertama di Jakarta, harapan saya, siapapun gubernurnya yang penting hilang macetnya. Bagi saya tolak ukur kesuksesan seorang gubernur Jakarta bukanlah kemajuan perekonomian, indahnya taman, atau lebarnya trotoar, tapi turun drastisnya tingkat kemacetan. Kemacetan sudah begitu memuakkan dan sudah banyak penelitian yang mengukur tingkat kemacetan ke dalam besaran kerugian secara ekonomi yang mencapai triliunan. Dari pengalaman liburan sekolah kemarin, saya jadi kepikiran untuk sumbang saran (nama) program kepada cagub dan cawagub DKI yang kini sedang bertarung. Bisa dibuat sebuah program anti kemacetan yang dinamai "Membuat Jakarta yang Libur Sekolah" atau semacamnya. Intinya bagaimana caranya jalanan Jakarta sehari-harinya seperti pas liburan sekolah, lancar dan menyenangkan. Perlu diteliti variabel-variabelnya lalu bikin kebijakan yang mengendalikan variabel itu. Misalnya, banyak yang beranggapan saat liburan sekolah bisa bebas macet karena berkurangnya mobil-mobil yang mengantar anaknya pergi sekolah dengan jumlah yang signifikan. Menilik dari hal itu bisa dipikirkan kebijakan yang tepat, seperti pembatasan kendaraan roda empat yang lebih efektif dan signifikan efeknya dengan metode yang kekinian bukan hanya sekedar rumus matematika bilangan ganjil atau genap. Itu cuma sekedar permisalan seadanya dari saya. Saya yakin jika calon no. 1 ataupun no. 3 yang menang nanti, pasti bisa memikirkan cara yang riil dalam mewujudkan usul dan saran saya tadi.
Hingga akhirnya hari senin ini para siswa dan siswi harus memakai seragam lagi untuk kembali belajar di sekolah. Ini menjadi pertanda bahwa sayapun harus kembali mengalami penurunan kualitas hidup dengan kembali habisnya waktu di jalanan dan kembali macetnya tiap titik perjalanan yang saya lalui. 
Benar saja, hari ini perjalan ke kantor memakan waktu 45 menit dan pulang ke rumah butuh 60 menit saja.

Satu pertanyaan yang sekarang muncul di benak saya, Kapan Liburan Sekolah lagi???

27 November 2016

Tentang Anak Pertama: Hampir Setahun

BY ekp No comments

Sebagai seorang ayah baru, saya mencoba terus meng-upgrade pengetahuan tentang dunia balita dengan membaca artikel-artikel di dunia maya dari petunjuk Dimas Kanjeng Google Pribadi. Tak lupa pula meng-install aplikasi android yang secara rutin mengirimkan info tentang perkembangan anak sesuai perkembangan usianya.
Hingga akhirnya kini buah hati sudah hampir setahun usianya. Seperti yang diterangkan oleh aplikasi dari 'bermain toko' tadi, di usia segini, anak saya sudah bisa diajak berkomunikasi dan berinteraksi. Dia sudah bisa mengerti dan merespon apa yang kita katakan meskipun masih belum bisa membalas dengan kata-kata. Jika kita meminta atau menginstruksikan sesuatu, dia akan melaksanakannya tanpa banyak bicara, menerapkan jargon salah satu iklan, "talk less, do more".
Pun sebaliknya demikian, jika dia sudah berkeinginan, maka hanya bermodal suara semisal "na.. na..", "aa..aa..", "nya..nya.." dengan mengacungkan jari, keinginannya harus segera dituruti. Kalo tidak, rengekan diiringi tangisan atau teriakan diiringi lengkingan bisa menggema di seluruh sudut ruangan. Begitulah dia, Aqila si anak pertama.
Jika sedikit kilas balik, dengan pertemuan yang mayoritas hanya di akhir pekan, saya dulu sempat dihinggapi 'om phobia'. Ya, sebuah ketakutan dimana nanti anak saya memanggil 'om' bukan 'ayah'. (hehehe)
Tapi ternyata darah dan daging emang ga bisa bohong, meski jarang ketemu, Aqila tetep lengket jika ada saya. Bahkan dia sudah duluan bisa bilang 'ayah' dan belum bisa ngomong 'ibu'. Sekarang di saat sudah mulai bisa berjalan dengan di-tetah (suatu metode mengajari anak berjalan dimana posisi orang tua berada di belakang dengan kedua tangannya menjadi pegangan buat anaknya saat berjalan), aqila lebih memilih di-tetah saya daripada ibu atau neneknya. Ini jadi kebanggan tersendiri bagi seorang ayah yang berstatus sebagai PJKA (baca: pulang jumat kembali ahad) seperti saya. Meski tak bisa dipungkiri, encok ini juga ikut menjerit jika me-netah terlalu lama, karena seiring bertambah 'dewasanya' usia.
Sabtu pagi menjelang siang kemarin, kala matahari sudah mulai terik, terdengar suara "na.. na..." dengan kedua tangan kecil mencoba meraih tangan saya. Itu modus aqila kalo minta di-tetah. Selangkah demi selangkah dia mencoba berjalan hingga akhirnya sampai di teras. Biasanya wilayah bermainnya hanya sampai teras. Tapi kali ini dia ingin lebih lagi, dia terus melangkah dan ingin turun sampai ke jalanan depan rumah. 
Meski sudah coba dicegah, tapi dia tetep kekeuh mau jalan. Saya pun mengikuti maunya, meski sedikit khawatir karena jalanan depan rumah masih banyak pasir dan tanah. Kekhawatirannya, aqila ngesot di jalanan dan mencoba belajar debus dengan memakan pasir atau tanah. Maklum salah satu hobinya adalah memasukkan berbagai macam benda yang dipegang ke dalam mulutnya.

Dan benar, baru beberapa langkah, aqila sudah memilih duduk maen pasir. Mengingat katanya kalo gak kotor ga belajar, maka saya membiarkannya sambil mengawasi kalau kalau dia sudah mulai lapar dan memakan pasirnya. 
Dia terlihat bahagia, walaupun bajunya yang baru ganti sudah belepotan. 
Jadilah siang itu diisi dengan jalan bersama dan bermain pasir. Sesi ini berakhir saat sudah masuk waktu makan siang yang ditandai dengan alarm "mamam.. " dari aqila.

Semenjak itu, aqila selalu minta jalan sampe depan rumah. Bahkan keesokan paginya jarak tempuh tetah-annya sudah lebih jauh lagi, sudah sampai rumah tetangga paling ujung. Tapi kegiatan utamanya tetap sama, duduk ngesot di jalanan dan maen pasir, sambil teriak-teriak kegirangan.
Mungkin dia terinspirasi dian sastro yang tidur di pasir dalam film Pasir Berbisik. Kalo gitu, nanti ayah bikinin film juga ya nak.. judulnya 'Pasir Berisik'.   :D

20 November 2016

Konsep (Kolom tentang Sepakbola): Bangun Tidur... Tidur Lagi..

BY ekp No comments

Sebuah coretan kecil tentang sepakbola yang didukung dengan analisis yang tak terlalu akurat dan seadanya, hanya opini belaka dan sekedar sok sok an saja.
 ****
Geliat timnas Indonesia mulai terasa kembali beberapa bulan terakhir. Ini seiring dengan gelaran piala AFF dimana tahun ini Myanmar dan Philipina mendapat giliran menjadi tuan rumah. Indonesia kebagian di grup yang dipertandingkan di Philipina. Berbagai media mulai dihiasi persiapan timnas mengarungi kompetisi terbesar untuk wilayah asia tenggara. Maklum, setelah sanksi FIFA untuk Indonesia dicabut di pertengahan tahun ini, piala AFF menjadi kiprah pertama tim merah putih di laga internasional.
Seperti biasa, persiapan timnas merah putih mengalami sedikit masalah karena berbenturan dengan kepentingan klub. Semenjak era liga rokok hingga kini liga kopi (mungkin nanti selanjutnya liga pisang goreng... biar komplit), entah kenapa selalu saja jadwal kompetisi antar klub di Indonesia sering beririsan dengan jadwal timnas. Bahkan kali ini lebih parah, jadwal liga dan jadwal Piala AFF berbarengan. Imbasnya, muncul kebijakan pembatasan maksimal dua pemain dari tiap klub untuk membela timnas.
Tentu ini bikin pening Mbah Riedl dalam memilih skuat yang pas. Dalam keterbatasan itu akhirnya Riedl mengumumkan anggota timnas Indonesia untuk bertarung di piala AFF 2016 yang dihuni kombinasi pemain muda dan pemain berpengalaman plus suntikan pemain asing berpaspor Indonesia. Sialnya, Irfan Bachdim yang sudah jadi andalan di beberapa uji coba, mengalami cidera menjelang turnamen dimulai. Makin apesnya, pemanggilan Pahabol sebagai pengganti terhalang kebijakan pembatasan pemain tadi. Persipura, klub yang mengontrak Pahabol keberatan karena mereka telah melepas dua pemainnya. Jadilah striker muda Mukhlis Hadi dipanggil menyusul rekan-rekannya ke Philipina.
Singkat kata singkat cerita, hari itu tiba juga. Di partai pertama, sang (mantan) Macan Asia yang baru bangun dari tidurnya siap menerkam si Gajah Putih, dengan taring keropos dan cakar tumpulnya.
Optimisme merebak ditilik dari wawancara sebelum pertandingan. Rata-rata punggawa tim garuda tak gentar dengan reputasi timnas Thailand yang sebelumnya menahan imbang Timnas Australia di partai ujicoba.

Tak melihat peringkat atau riwayat pertemuan kedua tim yang berat sebelah, Timnas merah putih dan seluruh supporter terlihat bersemangat untuk menjungkalkan pasukan Kiatisuk Senamuang (maklumi kalau salah tulis).
Pemain yang mayoritas muka baru membawa semangat dan kepercayaan diri yang baru pula. Semua pecinta bola Indonesia tentu berharap momen ini bisa menjadi terbangunnya kembali tonggak sepakbola Indonesia.

Namun semua optimisme dan gairah tingkat tinggi tadi dihentikan dengan tiupan peluit kick off dari wasit. Bagaimana tidak, seketika saat peluit wasit berbunyi, seketika itu pula kita tersadar bahwa semuanya masih sama. Timnas Thailand masih mendominasi Timnas Indonesia. Teerasil Dangda dkk dengan 4-2-3-1 nya sangat merepotkan Boaz Salossa dkk dengan 4-4-1-1 nya.
Jalannya babak pertama terlihat cukup timpang. Tanpa perlu melihat statistik, secara kasat mata bisa dilihat bahwa penguasaan bola didominasi oleh Tim Gajah Putih. Thailand langsung menggebrak dengan aliran bola cepat kombinasi umpan pendek dan umpan panjang yang akurat dan merepotkan pertahanan Indonesia. Sedangkan,  Timnas merah putih hanya bisa mengandalkan aliran bola cepat (hilang) kombinasi umpan lambung dan umpan nyasar.
Ini tentu memudahkan pemain-pemain Thailand membombardir langsung ke kotak penalti Indonesia yang membuat pemain Indonesia menerapkan strategi langsung panik buang ke depan. Alhasil, saat turun minum Indonesia sudah tertinggal 2-0. Macan yang tadi bangun, kini seolah tertidur lagi. Bayangan kekalahan telak sudah di depan mata.
Ternyata, Mbah Riedl berhasil memanfaatkan waktu jeda untuk memberikan petuah petuah yang punya dampak positif di ruang ganti. Ini terlihat dengan peningkatan intensitas permainan timnas Indonesia di babak kedua. Serangan cukup berbahaya meski cenderung sporadis dan tanpa skema coba diperagakan Andik dkk. Tampak jelas bahwa pelatih menginstruksikan untuk memanfaatkan kecepatan sisi sayap dalam diri Andik dan Rizky Pora. Tanpa dinyana taktik tersebut sukses, dengan dua gol penyama yang dicetak Boaz dan Lerby dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Dua gol itu jg tercipta denga cara yang hampir sama, umpan silang dan sundulan.
Tentu skor 2-2 ini membangunkan kembali optimisme yang sempat tertidur di akhir babak pertama tadi. Serangan Indonesia setelah itu juga tampak menjanjikan meski juga mengkhawatirkan. Kenapa mengkhawatirkan? jawabannya jelas karena skill pemain Thailand luar biasa dan pola permainannya juga rapi sehingga sangat berbahaya buat pertahanan Indonesia yang ditinggalkan para gelandang yang keasyikan menyerang. Sudah bukan rahasia lagi bahawa transisi dari menyerang ke bertahan merupakan masalah turun temurun timnas Indonesia yang tak kunjung terselesaikan. 
Dan benar saja, akhirnya Thailand bisa mencetak dua gol lagi yg prosesnya terlihat mudah karena pertahanan Indonesia yang lowong. Skor akhir 4-2 untuk timnas Thailand

Fiuhh, lagi lagi suka cita itu terenggut dalam waktu sekejap. Sempat cukup berharap dengan hasil imbang, akhirnya kalah telak juga. sang (mantan) Macan Asia kembali tertidur tak berdaya diinjak si Gajah Putih.
Tetiba saya teringat lagu almarhum Mbah Surip, "Bangun tidur...tidur lagi...bangun tidur... tidur lagi... banguuuunn... tidur lagi"
Tapi perjuangan di AFF 2016 belum usai. Semoga besok lawan Philipina, Tim Merah Putih bisa menunjukkan bahwa mereka memang Macan Asia.

07 Agustus 2016

Tentang Anak Pertama: Rindu yang Mendewasakan

BY ekp No comments

Sejak kuliah saya sudah memilih untuk merantau. Ya..pilihan saya sendiri karena memang saat lulus SMA saya sudah bertekad untuk tak lagi sekolah di kota kelahiran, Jember. Waktu itu sederhana alasannya, bosan tinggal di rumah bersama orang tua mulai dari lahir. Ingin belajar mandiri dan mencari jati diri, alasan klasik darah muda yang masih meletup-letup. Mimpi mulai dibangun dengan kuliah di STAN Jakarta yang sebenarnya kampusnya di Tangerang, meski orang tua lebih ingin saya tetap kuliah di Jember. Alasannya, orang tua pasti akan lebih senang jika anak mereka setiap hari ada di dekat mereka. Alasan yang waktu itu saya anggap terlalu dramatis.
Setelah berpuluh puluh tahun kejadian itu berlalu, malam ini, takdir membawakan saya hikmah yang begitu berharga. Yang menyadarkan, betapa saya salah dulu menganggap orang tua saya terlalu dramatis.
Ceritanya, saat ini saya sudah menjadi orang tua. Seorang anak perempuan cantik sudah dikaruniakan oleh Allah swt 8 bulan yang lalu. Kondisi mengharuskan saya untuk tidak bisa setiap hari ada di samping anak saya. Saya di Jakarta, anak dan istri di Jogja. Kami hanya bisa bercengkerama tiap akhir pekan. Sabtu pagi sampai Jogja, Minggu malam kembali ke Jakarta. Rutinitas melelahkan tapi menyenangkan. Bagaimana tidak melelahkan, 2 malam dalam seminggu dihabiskan dengan tidur duduk di kursi kereta. Tapi, bagaimana tidak menyenangkan, hari sabtu dan setengah hari minggu bisa maen dengan anak yang lagi lucu lucunya, dan juga istri yang lagi cantik cantiknya (boong dikit gpp kan ya bu..hihi..piss).
Momen di hari minggu malam selalu sama, saya berpamitan kepada anak istri untuk kembali ke Jakarta. Salim, cium pipi kiri pipi kanan, cium dahi, cium hidung, cium bibir...eits...ini ritual dengan anak lho ya (kalo sama istri kan rahasia..hehe). Setelah itu, saya bergaya bijaksana dengan menasehatinya untuk nurut sama ibunya dan segera tidur karena sudah malam. Anak saya biasanya tak terlalu menggubris dan hanya ceriwis ngomong dengan kosakata yang belum jelas.
Namun minggu malam kali ini berbeda. Saat saya melakukan ritual pamitan seperti biasa, tiba-tiba anak saya memandangi wajah saya dan menjulurkan tangannya, tanda minta gendong. Masya Allah, serrr rasanya, jadi berat untuk pulang ke Jakarta (maaf sudah mulai dramatis, hehe..), rasanya pengen menggendongnya lama dan menemaninya tidur dalam mimpi indahnya. Tapi apa mau di kata, tiket kereta tidak bisa diubah jadwalnya...mau tak mau saya harus berangkat ke stasiun. Sepanjang perjalanan dari kontrakan ke lempuyangan, pikiran saya tersadarkan bahwasanya memang sungguh lah berat berada jauh dari anak kita. Dan saya jadi mengerti kenapa dulu orang tua saya "menggandoli" saya agar kuliah di Jember saja.
Ternyata memang bukan suatu hal yang lebay ketika orang tua tidak mau jauh dari anaknya, meski anaknya sudah dewasa. Juga bukan hal yang terlalu drama ketika air mata orang tua berlinang saat ditinggal anaknya merantau.
Tapi sebagai orang tua yang sudah bertekad akan memberikan kebebasan pilihan kepada anaknya kelak, saya tak akan keberatan dan menghalangi ketika anak saya nanti memutuskan untuk merantau, 
,
,
,
,

Asalkan saya selalu ikut bersama dia, hehee.... Sekian.

08 Mei 2016

LIBUR

BY ekp No comments

LIBUR..., mempunyai dua sisi perspektif yang bisa memporak porandakan perasaan kita dalam sekejap...di dalamnya menyuguhkan dua keadaan yang bertolak belakang seketika..
Haha..pembukaannya hanya pura-pura serius aja...nyoba-nyoba pake bahasa sok berat.. :D
Ini sebenarnya hanya sebuah cerita tentang pengalaman hari libur yang mungkin dulu waktu di bangku SD sudah menjadi tugas wajib saat pelajaran bahasa indonesia di hari pertama setelah liburan...
Hmmh...tapi mungkin kurang pas juga karena sebenarnya yang ingin saya tulis bukan tentang apa yang dilakukan di hari libur, tapi tentang apa yang saya rasakan tentang hari libur...oke...mungkin dengan berat hati harus saya katakan bahwa saya cuma mau curhat :D
Ilustrasi awalnya seperti ini, saya adalah seorang kepala keluarga dari seorang istri dan seorang anak bayi yang senin sampai jumat seorang diri kemudian berubah menjadi seorang PJKA yang kata orang kepanjangannya Pulang Jumat Kembali Ahad...
Ya, saat ini saya kerja di Jakarta dan istri sedang tugas belajar di Jogja...situasi ini sudah berjalan kurang lebih 8 bulan dimana masih ada 7 bulan lagi yang harus dilewati...Mau ga mau tiap weekend sudah jadi rutinitas untuk bolak balik Jakarta-Jogja...
Ah, ilustrasinya kepanjangan..jadi benar-benar mirip tugas mengarang anak SD...hehehe..
Intinya, kondisi di atas membuat saya menyadari bahwa hari libur merupakan suatu perwujudan kombinasi antara senang dan sedih, antara bahagia dan kecewa, antara pertemuan dan perpisahan, antara penantian dan kepasrahan, dan yang pasti antara Jakarta dan Yogyakarta :D
Mari kita urai satu persatu (kecuali untuk yang "antara Jakarta dan Yogyakarta").
Yang pertama kombinasi antara senang dan sedih. Bagaimana tidak, libur tentu membuat senang karena lega sudah tidak berkutat dengan disposisi dan print-print an kerjaan. Tapi di sisi yang lain dalam sekejap dia akan menghadirkan kesedihan tatkala tersadar bahwa hari libur akan menghadirkan hari-hari kerja berikutnya. Itu jg belum menghitung kesedihan akibat raibnya penghuni buku tabungan ke beberapa mall dan swalayan.
Kombinasi antara bahagia dan kecewa juga serupa...Hari libur yang menghadirkan gegap gempita kebahagiaan untuk menyegarkan kembali otak kita dengan berbagai rencana dan agenda, tak akan segan membuat kita kecewa ketika dia berlalu begitu saja di saat kita masih ingin bermanja-manja dengannya.
Untuk yang selanjutnya, kombinasi yang baru buat saya, antara pertemuan dan perpisahan. Sebagai insan PJKA yang berdedikasi tinggi, hari libur bak cahaya terang di ujung kegelapan kerinduan (sori...ini lebay bin alay). Esensinya, di kala libur tlah datang di kala itu pula pertemuan dengan anak istri bagaikan setetes air di tengah keringnya kekangenan (maaf...makin alay dan lebay :D). Tapi serius, libur emang terasa sangat berharga bagi kaum kami (baca:PJKA), karena itu saat satu-satunya untuk bersua dan bercanda bersama keluarga. Namun lagi-lagi libur tak hanya menawarkan satu rasa, dia juga membawa serta perpisahan saat tanggal merah beranjak menuju tanggal warna hitam biasa.
Dan yang terakhir dan ga kalah ga penting, libur mengajarkan penantian dan kepasrahan. Jauh sebelum hari libur datang, penantian sudah dicanangkan. Liburan jadi hal yang ditunggu tunggu. Padahal kita juga tau, kepasrahan juga tak terelakkan ketika hari libur perlahan lahan berjalan pulang...
*Sebenarnya saya ga paham saya nulis apa ini, mungkin hanya mabok goyangan kereta dan enggan memejamkan mata...