07 Agustus 2013

Pra Musim

BY ekp No comments



Pada bulan-bulan Juli sampai Agustus seperti ini, para pemerhati sepakbola sedang banyak-banyaknya disuguhi persiapan Pra-Musim tim-tim kesayangannya. Mulai dari siaran langsung di televisi hingga kunjungan langsung tim idola ke negara-negara yang menjadi destinasi tujuan tur mereka. Euforia selalu mengiringi, gegap gempita manusia yang mengaku gila bola akan selalu jadi magnet yang kuat, kemeriahan dan semangat penontonnya tak ketinggalan. Beragam atribut yang dipunya pun tak ada yang boleh ketinggalan demi menunjukkan identitasnya sebagai fans fanatik. Sorakan dan teriakan khas masing-masing klub juga terdengar lantang sepanjang pertandingan, menambah luar biasanya atmosfer tiap pertandingan pra musim, membuat pemain sepakbola bak menjadi Raja di tiap negara yang disinggahi.

Belum lagi keuntungan dari sisi bisnis yang bisa diraih klub-klub top itu dengan mendekatkan diri ke fans base mereka. Tiket pertandingan bakal sold out dalam sekejap, marchandise laku keras, dan segala bentuk kegiatan yang bisa mendatangkan keuntungan buat mereka selalu diburu.

Bermacam-macam iming-iming di atas tadi yang membuat tim-tim sepakbola top dunia tak pernah absen untuk melakukan persiapan pra-musim baik itu dengan tur keliling suatu benua ataupun hanya sekedar turnamen “kecil-kecilan”. Semua hal tadi juga yang menjadi salah satu tujuan mereka melakukan pra musim. Tentu keuntungan yang luar biasa buat klub dengan semua kemeriahan pra musim tadi.

Tapiii.......tahu kah kita bahwa tujuan utamanya sebenarnya bukan semua itu. Inti dari pra-musim buat mereka adalah persiapan menghadapi musim penuh setahun yang akan diarunginya di berbagai level liga dan kompetisi. Pengembalian kondisi fisik, pematangan kembali taktik, dan penerapan strategi yang baik menjadi target utama mereka di pra musim. Mereka tahu bahwa perjuangan di liga masing-masing nanti selama semusim penuh sangat berat. Tiap-tiap pertandingan akan menuntut peluh yang maksimal. Lawan-lawan yang dihadapi pun tak ada yang benar-benar mudah. Persiapan pra-musim yang benar-benar matang menentukan besarnya peluang juara nantinya.

******
Begitulah sejatinya puasa di bulan Ramadhan ini, jika dianalogikan, puasa sekarang ini ibarat persiapan pra-musim buat umat manusia, buat kita semua. Memang benar sekali bahwa puasa di bulan Ramadhan ini sangat besar keutamaannya, nilai ibadah ditingkatkan kategorisasi nilainya, yang sunah jadi bernilai wajib apalagi yang wajib, nilainya pasti berkali-kali lipat. Kenikmatan yang diberikan Allah di bulan Ramadhan ini memang sangat memanjakan kita, bagaimana tidak, Allah membuka semua pintu langit, pintu surga dibentangkan selebar-lebarnya, pintu neraka ditutup rapat, setan yang biasa menghasutpun “dikerangkeng” oleh Allah. Ampunan Allah bentang kan seluas-luasnya, manghfiroh Allah kucurkan tak terhingga. Bonus saat 10 hari terakhir Ramadhan pun ga ada yang bisa ngalahin, malam Lailatul Qadar pun dihadiahkan Allah dengan nilai yang lebih baik dari seribu bulan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)

Allah juga menegaskan bahwa puasa di bulan Ramadhan ini adalah urusan langsung Beliau Yang Maha Esa dengan manusia makhluk ciptaannya. Bagaimana tidak istimewa namanya kalau Dzat Yang maha Tinggi, Allah swt, menilai langsung puasa Ramadhan kita?

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda:
"Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman, 'Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.' Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi

Ibadah spesial seperti sholat tarawih diperintahkan di bulan Ramadhan, nikmatnya makan minum lebih berasa saat sahur dan berbuka. Beribadah pun terasa lebih “meriah” dan bersemangat, euforia umat muslim memakmurkan masjid terasa berbeda, berbondong-bondong menuju masjid untuk sholat berjamaah. Gema dakwah bergemuruh di tiap sudut kota, meyebarkan ajakan menuju kebaikan sesuai Islam. Lantunan ayat suci Al Quran seakan-akan berlomba terus dipersembahkan mengingat ganjarannya yang begitu menggiurkan di tiap huruf yang dibacanya. Acara televisi juga tak ketinggalan menyesuaikan acaranya agar serasi dengan keberkahan bulan Ramadhan.

Nikmatnya berbagi pun terasa semakin bermakna bagi orang yang berpuasa, sedekah sangat dianjurkan karena keutamaan dan balasannya yang Allah janjikan berkali-kali lipat di bulan mulia ini. Belum lagi anjuran untuk memberi makan orang yang sedang berbuka puasa, Allah menjamin pahala yang sama tak kurang sedikitpun seperti orang yang sedang berpuasa tersebut. Tak ketinggalan sensasi berzakat yang terasa begitu menggoda di bulan Ramadhan.

Belum lagi kalau ditinjau dari sisi kesehatan, puasa mempunyai manfaat yang dapat diuji secara medis. Sistem pencernaan yang telah digenjot habis-habisan setahun penuh, diistirahatkan dan “turun mesin” dengan pengendalian pola makan selama berpuasa Ramadhan. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa puasa malah meningkatkan kekebalan tubuh, dan tak ketinggalan puasa juga signifikan mempengaruhi psikologis, bisa menurunkan tingkat stress. Dan banyak lagi mungkin manfaat bagi kesehatan kita saat berpuasa, tapi di sini saya tidak akan membahas rinci tentang penelitian-penelitian para ahli tentang puasa. Pokoknya adalah puasa sangat bermanfaat bagi manusia dalam menjaga kesehatannya.

Semua iming-iming di atas tentang puasa, membuat umat Islam yang beriman takkan merelakan waktunya sia-sia selama bulan Ramadhan, tak ada satu pun yang bersedia puasanya bolong meski satu hari, tiap tahun bulan Ramadhan selalu dinanti dan puasa menjadi ibadah yang dirindui. Tujuannya jelas, dapat meraih semua keutamaan puasa Ramadhan yang dijanjikan dan dijamin Allah, karena janji dan jaminan Allah tak akan meleset sedikitpun, janji dan jaminan Allah tidak mengenal deviasi, semuanya serba tepat dan pasti. Tentu keuntungan yang luar biasa berlimpah bagi seorang pemeluk agama Islam melaksanakan ibadah puasa dan ibadah lainnya yang jaminannya keutamaan dan pahala luar biasa besarnya.

Tapiii.....masih sadarkah kita bahwa tujuan utama puasa bukan hanya sekedar itu semua, bukan hanya mengejar keutamaannya semata. Puasa dan bulan Ramadhan ini sejatinya hanya layaknya persiapan Pra-musim bagi kita orang Islam, mempersiapkan diri menghadapi satu musim penuh di 11 bulan ke depan yang kompetisinya sangat ketat dan berliku. Pertandingan-pertandingan berat akan menuntut kesiapan iman dan ketaatan kita yang dilatih selama sebulan penuh di Ramadhan. Setelah berlatih melawan hawa nafsu saja di Pra-musim ini, kita harus siap menghadapi kompetisi yang sebenarnya, melawan bukan hanya hawa nafsu, tapi juga syaitan yang selalu setia merepotkan dan menjerumuskan kita. Pada saat puasa di bulan Ramadhan, fitrah manusia yang merupakan orang baik, yang bertaqwa dan menghamba hanya kepada Allah, berusaha dikembalikan lagi dengan Ramadhan. Dan hasilnya akan benar-benar ditantang di bulan-bulan setelah Ramadhan. Pra-musim yang matang selama bulan Raadhan akan memperbesar kans kita menjadi juara, juara yang sesungguhnya, yaitu menjadi orang yang bertaqwa, karena inti dari puasa adalah agar manusia menjadi hamba Allah yang bertaqwa, yang berhak meraih trophy dan penghargaan tertinggi dari Allah melalui surga-Nya kelak.
Pra-musim yang berhasil ditandai dengan gelar Juara.....dan Puasa di bulan Ramadhan ibaratnya sebuah Pra-musim, keberhasilannya ditentukan dengan raihan gelar juara, yaitu ketaqwaan...Puasa yang berhasil adalah puasa yang bisa membawa ketaqwaan dalam hatinya sepanjang tahun yang berbekas dalam tiap catatan hidupnya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al Baqarah : 183)

28 Juni 2013

Lantai 13

BY ekp No comments



Mendengar angka "13" mungkin buat beberapa orang menjadi sedikit serem....yang berbau-bau "13" juga kerap dijadikan judul film horor....dan identik dengan sebutan orang sebagai angka sial....Ini yang membuat sebagian gedung perkantoran, hotel, apartemen, dll melewatkan angka 13 di susunan lantainya.....

Tapi ini ga berlaku di sebuah kantor pemerintahan dimana saya pernah ada di dalamnya....lantai 13 terpampang jelas dan besar menempel dekat lift....dan kalo dijadikan judul film...lantai 13 yang ini genre nya lebih cocok ke film komedi bukan film horor....penuh tawa....bertabur lucu...dan kadang membuat geli sampai geleng-geleng kepala....jauh dari kesan seram dan mengerikan (mungkin hanya orang tertentu saja yang mewakili dua karakter ini..) 

Tidak seperti kerja kantoran di tempat lain...hari-hari disini hawa nya santai dan tak ada tekanan....rutinitas memang selalu bikin bosan...tapi personel dan aroma lantai 13 yang ini bikin kantor berasa kos kosan sendiri...bagaimana tidak...hampir tiap hari pria-pria lajang bercengkrama untuk sekedar bercanda, tukar pikiran (yang kadang temanya ga jelas), ngomongin cewek-cewek (yang ga dapet-dapet juga), saling mem-bully satu sama laen, maen PES di komputer kantor (jangan ditiru bagian yang ini), hingga hanya ingin ngliatin foto wanita-wanita yang terpampang di Facebook (mungkin yang ini orang nya uda spesifik) sampai larut malam...seakan tak ingin pulang, cubicle-cubicle (entah ini penulisannya bener atau salah) bak kamar-kamar kos yang penghuni nya masih asik begadang...jika ada yg pulang sebelum malam..teriakan "ah..cupu lo.." bakal terdengar sampai ke ujung ruangan...

Kunjungan security pencatat penghuni malam pun tak pernah absen menghampiri kami....alasan "lembur" selalu tertulis di lembar pendataan yang harus diisi...padahal sepertinya tak pernah sekalipun kita bisa dibilang lembur (hahaha..)....saking sungkannya sama security, yang nampak nya sudah mulai hafal muka-muka gerombolan malam ini, sampai sampai ada yang pura-pura ke toilet di jam-jam biasanya security itu datang atau saat mulai terdengar ada lift yang berhenti di lantai 13....mereka mendekam di dalam toilet tanpa ngapa-ngapain sampai kira-kira suasana aman terkendali dan security telah turun lagi...(dasar pengecut kalian semua...hahaha)

Jam kerja tak pernah lepas dari lemparan gurau-gurauan yang kadang garing dan monoton tapi tetap membahak-bahakkan tawa kita......mulai dari omongan maho yang selalu digaung-gaungkan yoga, pras, deni, dan herbet...edit-edit foto ga penting yang bikin ketawa sampe pening...saling tunjuk tunjukan buat angkat telepon...sampe rebutan buat menghindar dari angkat galon......

Bukan hanya kaum adam aja yang bikin heboh lantai 13 ini....ibu-ibu dan pemudi lantai 13 ini juga tak kalah kreatif untuk menciptakan joke-joke segar dan hinaan hinaan yang cettarr menggelegar...raut muka jauh dari setres terus terpancar (meski mungkin sebenarnya setres mikirin kreditan...hahaha)...ga ada kata jaim dalam kamus mereka..tak peduli bos atau sesama pelaksana...cecaran komen komen pedas kadang tak terhindarkan...bahkan banyak juga infotainment berjalan yang menambah warna semaraknya lantai 13 spesial ini... Sekali terlontar candaan dan ceng-cengan diantara para penghuni...gelak tawa akan pecah dan menggema ke seluruh sisi ruangan...cukup efektif buat kembali melenturkan urat syaraf yg mulai tegang akibat pekerjaan

Meski terkesan penuh hura-hura....warga lantai 13 ini juga terkenal dengan kereligiusannya...bukan hal aneh lift penuh dengan rombongan orang-orang 13 saat adzan berkumandang....5 - 10 menit sebelum jadwal adzan biasanya sudah banyak yang berkemas untuk siap-siap ke masjid....ajakan dan saling mengingatkan antar kawan membuat kita tak mengesampingkan dzuhur dan ashar...bahkan magrib dan isya (bagi yang siskamling sampai malam..hahaa)....Sudah menjadi rahasia umum kalo rombongan sholat dzuhur dan ashar dari lantai 13 adalah yang terbanyak dari gedung kantor ini....bos tertinggi di lantai 13 pun tak ketinggalan untuk berjamaah dan mengingatkan stafnya berangkat ke masjid....(Subhanallah banget yaa...)
Tak kalah kerennya dlm urusan pekerjaan.....dengan pembawaan santai dan penuh guyon....armada lantai 13 selalu menjaga integritas dan keprofesionalannya dalam menyelesaikan tugas...dari segi akademis juga tak kalah mentereng...skuad lantai 13 ini banyak dihuni Master-Master lulusan kampus ternama di luar negeri, belum lagi sarjana-sarjana keren yang berdedikasi....dilengkapi lulusan sekolah kedinasan yang penuh kontribusi....dan didukung pegawai-pegawai lainnya yang sangat berkompetensi di bidangnya...Sinergi dan kekompakan dalam membangun budaya kerja di lingkungannya mungkin tak ada duanya...Harmonisnya hubungan atasan bawahan,,,akrabnya pribadi masing-masing karyawan...plus hangatnya komunikasi yang terbangun...membuat terbentuknya kekerabatan layaknya sebuah keluarga besar..

Menjaga kesehatan jasmani juga tak luput dari perhatian warga lantai 13...untuk menyuplai kebutuhan nutrisi tubuh...kue-kue dan nasi kotak rapat selalu dijaga kualitasnya...4 sehat 5 sempurna jadi pertimbangan sebelum pesan...keenakan rasa juga pasti yang utama...

Kesehatan jasmani juga tak bisa lepas dari olahraga...tiap jumat kaum hawa datang lebih pagi guna mengikuti senam pagi bersama...dan laki-lakinya pergi ke rumput sintetis hijau mengolah bola futsal...latihan futsal ini selaen untuk mencari keringat..juga demi prestasi yang lebih baik dlm kejuaraan tahunan...gelar terakhir yang diraih juara 3..imbas yg lumayan dari hasil latihan...




Bukan hanya olahraga bola besar yg menggeliat...olahraga bola kecil juga jadi favorit di lantai ini...tiap jarum jam menunjukkan pukul stgh 5...dengan sigap beberapa orang "menggelar" meja pingpong...dan setelah itu bisa di tebak..suara "tak..tok...tak...tok.." hasil tumbukan bet-bola pingpong-meja"...

keseruan laennya ada saat acara capacity building yang beberapa kali diinisiasi...saat itu lah saat dimana benar benar tak ada pembatas struktural lagi...fokusnya cuma senang senang sambil pem
bentukan karakter menjadi lebih baik...semua bersama sama beraksi dalam game yang dirancang...disingkirkan dulu perasaan sungkan dan malu-malu...yang penting semua ceriaa...

Aah..kalo mau diceritakan semua sepertinya ga ada habisnya...banyak momen momen yang layak menjadi berita....belum lagi bakat bakat terpendam yang ada...mulai dari bakat tarik suara...bakat pelawak...bakat psikolog...bakat komentator...dan bakat bakat terpendam yang beragam...

Tak ada gading yang tak retak...tak ada ending yang tak tersibak...

 Abang tukang las butuh biaya...lantai tigabelas tetap jayaa... (haha..) 



21 Juni 2013

M.D.P.L

BY ekp 1 comment

  

 
Tujuh laki laki dengan beragam karakter, latar belakang, tingkah polah..mantab untuk menyatukan visi...mendedikasikan sebagian tujuan hidupnya sebagai penikmat keindahan alam Sang Pencipta...
Misi pertama yg digadang gadang adalah mendaki gunung...satu aplikasi nyata sebagai kelompok yg mengaku sebagai penikmat alam...menyusuri lekukan lekukan indah yg menjulang tinggi...bangunan Maha Penguasa Alam Semesta...

Meniti tanjakan dan menuruni turunan yg membentang di medan pendakian bukanlah hal yg baru untuk wisnu, heri, dan mas redi...mereka bertiga lah sbg inisiator awal yg menggerakkan saya, aziz, muhtar, dan deni, yang belum kenal akrab dengan mendaki gunung, untuk berkenalan dengan manisnya sajian keindahan pegunungan...

Perdana kami putuskan untuk menuju gunung lawu...gunung yg menurut hasil browsing cocok untuk pendaki pemula...
Tak ada persiapan khusus dari kami bertujuh..hanya penguatan keyakinan saja dari masing-masing kami...selain persiapan tiket perjalanan munuju singgasana gunung lawu...

Rencana hanya berbuah rencana..mendekati hari h ternyata..pendakian lawu ditutup krn pertimbangan cuaca...memutar otak menentukan rencana B, akhirnya disepakati untuk dialihkan ke gunung merbabu...

Setelah itu lah saya dan mungkin kami bertujuh merasakan aditifnya naek gunung  yang membuat ketagihan...rencana pendakian berikutnya pun mulai dirembug...

Gunung cikuray jadi target kami berikutnya...gunung di kabupaten garut ini memang tidak terlalu tinggi (2.818 mdpl)...tapi cukup buat mengobati kerinduan kami akan capek nikmatnya mendaki...
 
Sayangnya pendakian kali ini personel kami tidak lengkap..hanya saya, wisnu, deni, dan mas redi yang bisa berangkat...kami berempat ditemani mas fahmi, kenalan wisnu saat diklat..

naek mobil sampai titik awal pendakian yg sudah cukup tinggi letaknya (berasa offroad) dan bangunan semacam poskamling di puncak...jadi pengalaman unik yg dirasakan di cikuray...

Momen spesial dalam pendakian cikuray ini sebenarnya adalah cikal bakal munculnya nama kelompok pendakian kami, MDPL...berawal dari saat istirahat di tengah perjalanan menuju puncak..kami terpikir untuk memberi nama kelompok pendakian kami supaya nanti bisa ditulis di banner dan dibentangkan di puncak saat pendakian...

belum ada ide nama apa yang cocok merefleksikan kami karena memang blm dipersiapkan sebelumnya...tapi ternyata semenjak dulu wisnu uda kepikiran nama MDPL untuk "geng" ini...cuma belum ada kepanjangannya...alasannya pun menurut wisnu tak khusus...hanya berasa enak didengar plus di setiap gunung pasti tertera "MDPL"...
 
jadilah selama perjalanan kita berpikir keras kepanjangan yg pas untuk nama MDPL..
Sampai kembali ke Jakarta pun belum berhasil menemukan kepanjangannya...tapi kami sepakat MDPL adalah nama kami sekarang...kami bertujuh...saya, wisnu, heri, mas redi, aziz, muhtar, dan deni...

********
Heri: sudah berpengalaman mendaki gunung sebelumnya, selalu berinisiatif mencari tahu rencana pendakian dan jalurnya untuk kemudian di-share kepada yang lain, kuat fisik dan penuh kesabaran (sering nungguin yang ga kuat buat jalan pelan pelan), orang yang selalu mengingatkan peralatan yang harus dibawa dan dipersiapkan, bertugas belanja sayur dan beras untuk bekal pendakian, karena semua itu lah kami menahbiskannya menjadi Ketua.

Wisnu: berpengalaman naek gunung sebelumnya juga seperti Heri, punya bentuk fisik yang militan (tinggi, kekar, dan napas panjang), tasnya selalu yang terbesar diantara kawan-kawan, semangat sekali tiap pendakian tak pernah melihat lelah dalam ekspresinya, orang pertama yang mengajarkan saya packing carrier, langkahnya juga panjang dan cepat tiap mendaki, barisan depan selalu menjadi posisinya di hampir sepanjang perjalanan, tak diragukan lagi dia pantas menjadi wakil ketua.

Mas Redi: nama lengkapnya Redi Andriansyah (mohon maap kalo ada kesalahan dalam penulisan nama), kalo yang satu ini ga usah dipertanyakan lagi daya tahannya saat pendakian, tiap langkahnya selalu tegas menjejak, keringatpun seolah segan mengalir di wajahnya, badannya memang tidak semilitan wisnu, tapi kekuatan dan kelincahannya saat mendaki tak ada yang pantas meragukannya lagi, pernak pernik mendakinya didominasi dengan merk eiger sehingga kami memanggilnya "mas eiger", dengan senioritas dan bijaknya bersikap mungkin semestinya kami menempatkan dia sebagai Dewan Pembina.

Muchtar: yang satu ini gambaran pertamanya kalo kata orang jawa "ga duwe udel", tipikal bentuk fisik sama militannya seperti wisnu, mendaki dalam kamus nya mungkin tak ada kata pelan karena tiap mendaki dia selalu paling depan dan kadang tak mampu dikejar teman-teman yang lain, koki kami yang selalu memakai sepatu kerennya tiap pendakian, tak pernah nampak dia memakai sendal ke gunung, semangatnya berapi-api dan setia dengan kaca mata hitamnya di beberapa pendakian.
Deni: di antara kami, mungkin deni ini lah orang yang paling santai (bahkan terlalu santai kadang-kadang), setia banget sama gadgetnya, tak peduli sedang mendaki, earphone tetap lekat ditelinganya entah sekedar mendengarkan lagu kesayangan atau bahkan sampai menonton film yang tersimpan di hp nya, tiap pendakian tak pernah lupa bantal tiupnya, di saat yang lain tidur berbantalkan tas atau apa yang ada di sekitarnya, deni akan nyenyak dengan bantal tiupnya, deni biasanya diberi tugas untuk membagi-bagi "jatah" makanan agar adil.
Aziz: anggota paling junior dan sering menjadi sasaran bullying di lingkup MDPL, hobi nya yang gemar mengaca dan bersisir tak pernah dia tinggalkan meski sedang pendakian, mungkin salah satu yang diingat dari sosok ini adalah ketidakmampuannya memecahkan telur (bayangkan memecahkan telur dengan cara diremas), terbilang cukup kuat dan licah juga saat mendaki meski belum pernah naek gunung sebelumnya, mungkin bentuk fisiknya yang tinggi dan ramping turut mendukung itu
Saya: menurut saya, saya anggota yang paling lemah di MDPL, yang paling cepat menunduk memegangi lutut dan paling cepat minta break saat jalan, tapi semangat mencapai puncak selalu saya gantungkan di benak saya, supaya meski fisik tak kuat semangat tetap melekat, dan sepertinya cukup sekian karena saya ga enak buat menilai diri saya sendiri (hahaha...)

********


Meski diputuskan anggota MDPL hanya bertujuh, bukan berarti tidak membuka kemungkinan untuk mengajak org lain dalam pendakian..karena sejatinya MDPL terbuka bagi siapa saja..

Seiring masa, kepanjangan MDPL belum jg diputuskan...banyak saran yg dikumandangkan..dari mulai "Mendaki Dan Pulang Lagi", "Muncak Dan Pulang Lagi", hingga kepanjangan-kepanjangan lain yg saya tidak ingat...
 
Meski tak jua menemukan kepanjangannya, kami tetap mantab mengukuhkan MDPL...

Pendakian-pendakian berikutnya nama MDPL selalu terpampang di banner setiap pencapaian puncak gunung yg berhasil dinikmati...papandayan, pangrango, dan lawu jadi saksi pencapaian puncak kami setelahnya...

Bermacam pengalaman dan tantangan kami kenang...rupa rupa leindahan kami abadikan...papandayan yang keren dengan hutan matinya...pangrango yang berkesan dengan ramai dan guyuran hujan sepanjang perjalanan...hingga gunung lawu yang mirip merbabu tapi super dingin nan melelahkan beserta mbok yemnya...

Semua puncak yang dipijak tak membuat kami berpuas diri...masih banyak gunung yang belum terkunjungi...ada semeru yang terus merayu...tak ketinggalan rinjani yang terus menghias imaji...belum lagi gunung gunung lain yang tak kalah menggiurkannya macam slamet, sumbing, sindoro, salak, dan lainnya..

takkan habis indahnya alam...
takkan lekang eksotisme bumi pertiwi...
tiap jengkal langkah kaki, terhembus segarnya udara alami...
tiap tarikan nafas dan tetesan peluh, terkandung makna sebuah perjalanan...
saat puncak berhasil diraih, syukur tersujud atas kebesaran Ilahi....
tak boleh ada kepongahan dan merasa gagah...
karena semuanya hanya karunia...
dan karena kita MDPL.... 









15 Juni 2013

Keluhan itu tak elegan

BY ekp No comments

Tiba-tiba saja terlintas di benak saya tentang "bersyukur" (entah apa ini terinspirasi coretan status sebagian org yg saya baca di sosial media yg terkesan berbau keluh kesah)...sebagai muslim..Quran adl rujukan utama dlm hidup (bersama hadits Rasulullah saw tentunya)... dlm Al Quran telah banyak dijelaskan tentang syukur, salah satunya Allah jelas berfirman:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

menilik dr ayat di atas sy jd tersadar bahwa masalah syukur ini sebenarnya masalah yg sgt serius..bgmn tidak...konsekuensinya azab Allah...yg ditegaskan jg kl azab Allah itu sangat pedih...
Simpelnya..pemahaman sy yg masih miskin ilmu ini..."kl kita bersyukur..insyaAllah nikmat kita pasti ditambah...kl tidak bersyukur..yg kita hadapi azab Allah.."

nah..jika ditilik lagi..salah satu indikasi tidak bersyukur adl "mengeluh" krn (menurut saya) mengeluh merupakan bentuk ketidakpuasan kita akan apa yg sedang, akan, atau telah kita hadapi...padahal yg kita keluhkan itu smua terjadi atas izin Allah..smua nya berasal dr Allah..dan harusnya semuanya tetap harus disyukuri..bukan dikeluhkan..krn semua yg dari Allah hakikatnya adl baik..

Jika mau sedikit teliti dan objektif...hal yg dikeluhkan itu jauuuuuhhh lebih sedikit dan tidak ada apa apanya dibandingkan dg kesenangan (nikmat) luar biasa melimpah yg telah dikaruniakan Allah seumur hidup kita..

Jadi..apakah pantas kita mengeluh?bukankah mengeluhkan sedikit kesusahan di balik karunia kenikmatan yg demikian luas nampak serupa artinya dg mengingkari nikmat?masih ingat kan dr ayat di atas td kl mengingkari nikmat risikonya adl azab Allah?masih sadar kan kl azab Allah itu ga bs dihalangi siapapun dan sangatlah pedih?

Kesimpulannya...sbg org yg memiliki rasa syukur..ga ada hak sedikitpun untuk mengeluh..semua kondisi harus tetap disyukuri...
Alangkah luar biasanya kita jk bisa tidak terbiasa mengeluh...dan lebih luar biasa lagi jika bisa tidak memamerkan keluhan dlm bentuk apapun baik itu status facebook, tweet, curhat, obrolan,dsb.
Memang menulis status facebook, nge-tweet, berbicara apapun itu sepenuhnya hak kita...tp sbg muslim ada baiknya jika kita tinjau lg surat Ibrahim ayat 7 tadi sblm mengeluh dlm status facebook..twitter..dan dlm segala obrolan kita..
Toh merahasiakan keluhan jg merupakan salah satu kebajikan karena dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan).” (HR. Ath-Thabrani)

- sedikit tulisan dari manusia yg masih sering mengeluh dan sedang belajar bersyukur -

26 November 2012

Eksotika Karimunjawa:Awal Sebuah Petualangan

BY ekp No comments



Tak terasa rentetan tanggal merah di pertengahan November ini telah menyapa, liburan yang telah terencanapun siap memanjakan mata dan jiwa. Satu tujuan yang sudah menggema di telinga dan menerawang di kepala...eksotika Karimunjawa...

Pagi 15 November 2012 ini entah kenapa terasa lama, tak biasanya seperti itu karena biasanya pagi di awal libur panjang akan berlalu singkat. Mungkin ini efek dari melubernya rasa tak sabar yang menghinggap menyambut paket relaksasi jiwa dan raga ke Karimunjawa yang sudah mendekat di depan mata. Tak mau terlena dengan suasana, saya bergegas mencuci muka dan bersiap “packing” segala amunisi untuk mengarungi laut dan menyusuri pantai Karimunjawa karena sejak malam sebelumnya saya belum berhasil mengumpulkan niat untuk mengepak pakaian serta peralatan-peralatan lainnya....

Singkat cerita...carrier warna hijau itu telah menjulang terisi bekal-bekal perjalanan 4 hari ke depan. Segala keperluan yang terlintas di kepala sudah dibawa..proses mengingat kembali juga sudah dilewati..dan sampailah pada kesimpulan bahwa perbekalan telah siap sedia.
Sekarang saatnya persiapan fisik...mandi dan sarapan yang mendekati makan siang...(hehehe)
Menjelang dzuhur, hp saya bergetar...ternyata ada sms dari teman saya, Aziz, rekan kerja yang terbilang paling junior di kantor.... “Mas, mari dzuhur aku nang kosane sampean” (terjemah:”Mas abis dzuhur aku ke kosanmu”) begitu katanya. Hari itu memang Aziz, Mas Doni, dan Aswin janjian mau kumpul di kosan saya dulu sebelum meluncur ke terminal Rawamangun sebagai titik awal perjalanan kami. Cukup dengan menyentuh tombol “Ok” di layar hp dan mengirimkannya ke nomor si Aziz, maka kesepakatan via sms antara saya dan Aziz pun telah sah.

Adzan dzuhur berkumandang dari masjid dekat kos dengan alunan suara Bapak paruh baya yang memang sudah rutin mengumandangkannya di masjid itu. Biar ga keburu-buru nanti, saya putuskan untuk menyegerakan sholat dzuhur beberapa saat setelah adzan selesai berkumandang. Ternyata tepat keputusan saya..karena tak seberapa lama Aziz sms kalo dia uda ada di depan pintu pagar kosan saya.. Beranjak lah saya dari kamar untuk membukakan pintu pagarnya..eh..di tengah perjalanan menuruni tangga..tiba-tiba teringat bahwa bukti transfer tiket kereta api yang nanti akan mengantarkan pulang dari semarang ke Jakarta lupa belum ke-print...alamaak..mesti cari warnet dan ngeprint dari email saya. Dipercepatlah langkah kaki yang hendak membukakan pintu pagar..dan akhirnya buru-buru saya antar Aziz ke kamar..kemudian tak buang-buang waktu langsung menuju warnet terdekat.

Butuh durasi hampir 30 menit hanya untuk ngeprint bukti setor tiket di warnet..gara-gara komputer yang saya pake belum terinstall PDF reader..alhasil musti download dan install dulu. Tapi yang terpenting sudah berhasil dicetak dan saya bersama 3 orang yang lain yang tertera namanya bisa balik ke Jakarta nanti.

Setelah bayar uang warnet...kaki pun digerakkan keluar dari ruangan warnet yang cukup sempit itu. Dengan diselingi mampir ke indomart sebentar...saya langsung balik ke kosan, kasian aziz yang udah ditinggal lumayan lama di kamar saya. Ternyata pas udah nyampe kosan...aziz dengan santainya sedang memetik senar-senar gitar...

Sekarang tinggal nunggu mas Doni dan Aswin yang telah menjalin kesepakatan untuk kumpul dulu di kosan saya. Karena tak kunjung ada kabar dari 2 orang itu...akhirnya saya berinisiatif untuk menunggu kabar sambil mencicipi bermain FIFA 2013 bersama Aziz di kamar temen kosan. Sedang mengutak-atik formasi..eh...ada sms dari mas Doni kl dia uda nyampe di deket kosan..akhirnya saya samper dulu di tempat dia nunggu. Digeber lah si Jupe MX menjemput mas Doni yang katanya udah menunggu di dekat pangkalan ojek. 

Sehabis mengarungi jalanan deket kosan...akhirnya mas Doni dan saya sudah nyampe di kosan dan bergabung bersama Aziz yang juga baru selesai beli makan siang di warteg di perempatan kosan.
Jam menunjukkan 14.40 dimana mendung telah menggelayut manja di langit jakarta..nampaknya berpotensi turun hujan yang cukup deras melihat setting cuaca yang disiapkan oleh Tuhan sore ini. Tak berapa lama dering handphone memecah keberisikan kami bertiga yang sedang beradu gengsi dalam FIFA 2013 (hahaha)... "Ndu aku lgsg ke rawamangun, hujan. Gk jd ke kosmu yaa.." Aswin berbicara melalui rangkaian huruf-huruf. Berarti sekarang sudah lengkap skuad yang akan berangkat dari kosan saya...tinggal menghitung mundur waktu berangkat ke Rawamangun. Kami bertiga sepakat berangkat jam 16.30 ke Rawamangun..mengingat bus kami berangkat menuju Jepara jam 18.00.

Jarum jam menunjukkan waktu dimana orang menyebutnya dengan setengah lima dan saya, Aziz, mas Doni telah siap untuk berangkat ke Rawamangun, kami mendapat anggota tambahan berangkat bareng karena Aldi yang tinggal di kosan sebelah ikut berangkat bersama kami. Melangkah lah kami berempat bak 4 sekawan menuju Rawamangun, tapi sebelumnya mampir ke indomart terdekat untuk ngambil duit persiapan biaya hidup selam perjalanan. Tak berapa lama sampai di Indomart..ada sms di hp Aziz yang jadi layaknya petir di siang bolong... “Ziz..kalo maw ikut ke Karimun kumpul dimana?” begitu bunyi sms dari Deni, temen kantor yang awalnya tidak ikut ke Karimunjawa karena berbagai alasan. Sontak kami berempat mengerutkan dahi, pikiran “loh..emang deni ikut?” pun menggelayut di benak kami masing-masing. Masih terheran-heran dengan keikutsertaan Deni di detik-detik terakhir, kami pun memutuskan untuk membalas sms Deni bahwa kita sudah mau berangkat ke Rawamangun dan meminta dia langsung ke Rawamangun saja nanti ketemu disana. Tak lama kemudian melintas lah si “burung biru” di depan kami, dengan sigap kami menyetopnya dan meminta diantarkan ke Rawamangun.

Kurang lebih 15 menit, si “burung biru” yang mengantar kami telah mendarat di Rawamangun dengan selamat. Telah menyambut di terminal Yoga, Aswin, Sary, dan Mbak Omi yang sudah nyampe duluan. Setelah Yoga dan Aswin beres menyelesaikan masalah administrasi tiket bus kami...disepakati kalo kita segera naek ke bus saja karena sepertinya di dalam bus lebih sejuk dibanding suasana outdoor terminal Rawamangun yang dihiasi dengan kepulan asap dari knalpot angkot dan metromini serta diiringi alunan mesin-mesin tua metromini plus bajaj yang melintas.
Di dalam bus kami sibuk memilih posisi duduk yang nyaman, nampak sedikit seperti ada perebutan kursi layaknya anggota DPR (hahaha...apa sih). Bus yang akan menemani kami ke Jepara ini menurut saya sangat nyaman, keren, dan cukup luas sehingga bisa memanjakan mata ini untuk terpejam di pejalanan nanti. 
 Tiap-tiap orang sudah menempati kursi yang terlah dipilih dan mulai merapikan bawaan mereka supaya aman dan tidak mengganggu saat bus sudah berjalan nanti. Saat kami sedang beradaptasi dengan empuknya kursi, dinginnya AC, dan suasana bus ini, tiba-tiba orang yang mengejutkan itu datang, dialah si Deni yang dengan santainya langsung naik masuk ke dalam bus. Rombongan pun semua terkejut, kecuali 4 sekawan dari cempaka putih yang udah terkejut duluan tadi, melihat penampakan Deni sore itu. Yoga yang jadi “EO” liburan ke Karimunjawa ini pun tercengang karena sebelumnya dia memang udah dihubungi Deni terkait rencana keikutsertaannya tapi dia ga menyangka kalo Deni beneran mau ikut. Soalnya, saat sebelumnya ditanya Yoga lewat sms, nama lengkap dan usia untuk keperluan administrasi tiket, Deni dengan entengnya menjawab “Deni Ganteng, Usia 20 tahun”. Jadi Yoga mengira Deni hanya bercanda dan ga diurusi lagi tuh kebutuhan tambahan tiket buat Deni. Kenyataannya, tiket bus ke Jepara buat Deni memang ga ada dan menurut informasi, tiket nya uda sold out. Tapi anehnya, melihat kenyataan itu, Deni bukannya bingung atau buru-buru cari informasi, malah dengan tenangnya duduk di salah satu kursi bus. Tak pelak kami semua menyarankan dia buat segera nanya-nanya ke loket bus daripada nanti gagal berangkat. Akhirnya, dengan diantar Yoga, Deni pergi ke loket penjualan tiket bus, daaannnn....keberuntungan Deni dimulai detik itu, ada 1 tiket yang dibatalkan oleh pemesannya yang itu berarti Deni bisa berangkat ke Jepara bersama kami. Masalah pertama untuk Deni uda selesai meski sebenarnya masi ada masalah lagi tentang tiket Kapal untuk menyeberang ke Karimunjawa nanti, tapi lagi-lagi deni tenang saja dan optimis pasti ada tiketnya. Ya...kami pun menyerahkan semuanya ke dia...dengan risiko kalo ga dapat tiket kapalnya, terpaksa kami hanya bisa melambaikan tangan ke Deni saja nanti pas nyeberang ke Karimunjawa (hehehe).
Formasi dari Bapepam-LK sudah komplit, Sary dan Mbak Omi duduk di deretan terdepan sebelah kanan, di belakangnya ada Aziz dan Aldi, saya dan Mas Doni memilih baris kedua di sebelah kiri, Aswin masih duduk sendiri di belakang saya dan Mas Doni, sedangkan Deni berada di deretan kursi yang terpisah dari kumpulan kursi yang sudah dipesan oleh kami. Sebelumnya kami uda memesan 14 kursi, 8 untuk rombongan Bapepam-LK, 5 untuk rombongan pacarnya Yoga dan teman-temannya, plus 1 untuk Maria, teman yang dulu sekantor dengan kami tapi sekarang telah pindah tempat kerja ke salah satu Law Firm di Jakarta.

Sambil menunggu jadwal keberangkatan, kami terus menanti kedatangan sisa rombongan yang lain. Yoga juga uda nampak mulai sedikit gusar karena pacarnya dan temen-temennya ga kunjung dateng meski mereka sudah ngasih kabar kalo mereka sedang dalam perjalanan menuju Rawamangun. Tapi itu ga bisa menutupi kekhawatiran di wajah Yoga yang dari tadi sudah harap-harap cemas. Namun tak lama kemudian yang ditunggupun telah hadir, 5 gadis yang dinantipun sudah ada di atas bus. Sebentar mereka pilih tempat duduk tersisa yang alhasil Yoga dan pacarnya memilih duduk di depan saya dan mas doni. Kekasih Yoga ini ternyata namanya Ratih, sambil jalan menuju ke tempat duduknya dia memperkenalkan diri ke tiap-tiap dari kami yang belum kenal sebelumnya. Sedang 4 yang lain, kakak-beradik, Sherly dan Jessica, serta Riri dan Amalia (jujur keempat orang ini sebenarnya namanya saya baru tahu pas uda nyampe di Karimunjawa,hehehhe...) duduk di 2 deret kursi tersisa. Berarti sekarang tinggal Maria yang belum nampak tanda-tanda kedatangannya, malah dia ngasih kabar kalo masih ribet dikit gara-gara ATM nya hilang, tapi 10 menit lagi dia mengatakan akan sudah ada di sini.

Benar saja, tak sampai 10 menit Maria sudah datang dan langsung duduk di sebelah Aswin karena emang tinggal tempat itu yang masih kosong. Itu tandanya, rombongan kami sudah benar-benar lengkap dan siap memulai meniti jalan hingga ke Jepara dan lanjut menyeberang ke Karimunjawa. Saat waktu di Indonesia Bagian Barat menunjukkan pukul 18.30, Bus pun mulai bergerak memutar rodanya meninggalkan terminal Rawamangun melahap kilometer demi kilometer menyusuri jalur menuju Jepara. Tak mau kalah dengan Bus yang mulai melaju kencang, saya pun mulai menginjak pedal gas kencang-kencang untuk melaju ke peraduan menjamah dunia mimpi (hehehe)... Mata perlahan-lahan terpejam dan sepertinya kawan yang lain juga sudah bersiap-siap merangkai mimpinya masing-masing dari atas kursi bus, dan beberapa menit kemudian, saya mulai zzzzzzzzz........ (hihihihi)